
PEKANBARU – Fenomena menahan pengeluaran kini makin terasa di tengah masyarakat. Aktivitas pasar tradisional maupun pusat perbelanjaan tetap berjalan seperti biasa, namun pola konsumsi warga mengalami perubahan drastis dengan hanya membeli barang seperlunya saja.
Perubahan paling terlihat pada pola belanja harian. Karyawan swasta, Rina, mengaku harus mengatur ulang manajemen keuangan bulanannya secara ketat. Barang sekunder mulai ditinggalkan demi memprioritaskan kebutuhan dasar.
"Sekarang kalau ke pasar atau minimarket, sudah ada daftar. Di luar itu nggak dibeli. Takut pengeluaran membengkak," ungkap Rina, Rabu (15/4/2026).
Kondisi serupa dirasakan langsung oleh para pedagang di tingkat akar rumput. Pedagang sayur di Pasar Kodim Pekanbaru, Siti, merasakan dampak nyata dari lesunya daya beli masyarakat. Meski jumlah kunjungan pasar terlihat normal, tingkat transaksi justru merosot tajam.
"Yang datang ramai, tapi belinya sedikit-sedikit. Banyak yang nanya harga saja, habis itu pergi. Omzet jelas turun," keluh Siti.
Meski laporan resmi menyebutkan inflasi terkendali, masyarakat tetap merasakan harga kebutuhan pokok cenderung bertahan di level tinggi dan tidak kembali normal. Warga terpaksa mengalokasikan porsi pendapatan yang lebih besar untuk kebutuhan esensial, sehingga ruang untuk pengeluaran lainnya semakin menyempit. ***