
BENGKALIS, GORIAU.COM - Kebakaran hutan dan lahan ikut meluluhlantakkan puluhan hektar kebun karet milik masyarakat di Desa Bantan Tengah, Kecamatan Bantan dan Desa Temiang, Kecamatan Bukitbatu, Kabupaten Bengkalis musnah terbakar. Sementara di Desa Apiapi, Kecamatan Bukitbatu, api melahap perkebunan sawit, setidaknya sudah 10 hektar ludes.
Hingga hari ini, api terus meluas dan membakar sejumlah area perkebunan di sekitarnya, walau upaya pemadaman terus dilakukan warga bersama BPBD-Damkar Bengkalis. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Desa Bantan Tengah menghanguskan sekitar 30-an hektar kebun karet milik masyarakat. Demikian juga di Desa Temiang, Bukitbatu, tidak kurang 60-an hektar kebun karet warga juga terbakar, dimana api berasal dari desa tetangga, Desa Api-api berpindah ke Temiang karena tiupan angin kencang pada Minggu (9/3/2014) sore.
''Waktu saya ke desa Bantan Tengah si jago merah tengah membakar kebun karet masyarakat disana. Kebakaran yang terjadi cukup besar, dikhawatirkan bila tidak cepat ditangani akan membakar kebun disekitarnya yang bisa menghanguskan pokok karet warga di Bantan Tengah,'' ungkap Hendri B, warga Kota Bengkalis yang sedang berada di Bantan Tengah, Senin (10/3/2014).
Menurut Hendri, lahan yang terbakar sudah melebihi 30 hektar dan kemungkinan bisa bertambah apabila pemadaman tidak cepat dilakukan. Musim kemarau panjang juga merupakan kendala utama pemadaman karhutla saat ini, karena kanal-kanal di semua tempat mulai kekeringan. Â
Karhutla di Desa Temiang Kecamatan Bukitbatu terjadi sejak, Senin pagi kemarin. Diduga api yang membakar perkebunan karet masyarakat disana berasal dari tiupan angin yang bergerak dari Desa Api-Api, dimana karhutla di desa Api-api sendiri sudah terjadi sejak sebulan lebih.
''Api mulai merembet ke Desa Temiang. Api menbakar kebun dan batang karet warga disini. Lokasi yang terbakar lumayan luas, mencapai 60-an hektar karena angin kencang api bergerak cepat membakar kebun-kebun tersebut,'' ungkap Hidayatullah, warga Desa Temiang.
Warga Temiang sudah berupaya secara swadaya untuk memadamkan api. Akan tetapi musim kering yang terjadi membuiat warga kewalahan melakukan pemadaman karena jarak mengambil air dengan lokasi kebakaran cukup jauh dan pemadaman menjadi tidak maksimal.(jfk)