PEKANBARU, GORIAU.COM - Sedikitnya 30 ribu hektar (ha) hutan konservasi gajah Sumatra di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau habis dibabat perambah. Bahkan dari citra satelit terkini, dari seluas 86 ribu hektare areal TNTN hanya sekitar 20-23 ribu hektar yang masih memiliki tutupan hutan alam.

''Sekitar 30 ribu ha yang telah dirambah. Jadi saat ini sisa 50 ribu hektare. Apa yang terjadi semua ini tak perlu dipersalahkan. TNTN tetap milik Bangsa Indonesia,'' kata Kepala Balai TNTN Kupin Simbolon kepada Media Indonesia di Pekanbaru, Rabu (11/9/2013).

Kupin menjelaskan perambahan yang masiv di TNTN tidak lepas dari kelalaian pemerintah Indonesia. Pada 1986, pemerintah dengan tegas melarang sertifikasi lahan. Namun sejak bergulirnya reformasi 1998, aksi perambahan hutan oleh masyarakat berlangsung disertai praktik sertifikasi lahan.

Hingga pada 2009 perluasan lahan TNTN sebagai pusat konservasi gajah Sumatra seluas 86 ribu ha ditetapkan, perambahan terus berlangsung tanpa ada penindakan hukum.

''Selama itu pemerintah vakum. Masyarakat dan pemilik modal sudah terlanjur memiliki lahan lalu menanami TNTN dengan kebun kelapa sawit. Sementara sebagian lagi sudah berganti menjadi pemukiman penduduk,'' papar Kupin. ***