
ACEH UTARA – Di tengah situasi darurat banjir yang belum mereda, sebuah insiden di Jalan Irigasi, Langkahan, memicu kemarahan publik. Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan sebuah mobil yang disebut membawa bantuan untuk korban banjir habis terbakar, sementara bungkusan sembako berserakan di tanah. Warga tampak mengerumuni lokasi, sebagian berusaha menyelamatkan barang bantuan agar tidak ikut hangus.
Video yang diunggah akun M Devina Alfatih itu menyebut bahwa warga membakar mobil tersebut lantaran merasa bantuan hanya dipamerkan untuk foto, lalu dibawa kembali oleh pihak yang mengantarnya.
“Mobil bantuan banjir dibakar warga… karena mereka kecewa bantuan cuma dibawa saja, difoto, lalu dibawa pulang lagi,” tulis sang pengunggah.
Dalam rekaman tersebut, api membubung tinggi dari bagian belakang kendaraan. Teriakan warga terdengar jelas, menunjukkan campuran amarah, kekecewaan, dan rasa dipermainkan di tengah kondisi mereka yang sedang membutuhkan bantuan.
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari aparat keamanan maupun pemerintah daerah mengenai kronologi lengkap. Namun sejumlah warga di lokasi menyampaikan bahwa mereka merasa kehadiran bantuan hanya sebatas formalitas—datang, difoto, lalu pergi tanpa meninggalkan apa pun untuk para penyintas banjir.
Situasi ini memperkeruh suasana Aceh Utara yang sedang dilanda banjir besar di beberapa titik. Warga berharap bantuan dapat disalurkan secara adil dan transparan, bukan dijadikan ajang pencitraan.
Pengamat kebencanaan menilai kejadian semacam ini kerap dipicu ketidakjelasan distribusi bantuan. Dalam kondisi darurat, warga berada dalam tekanan psikologis tinggi; ketidakteraturan sekecil apa pun dapat memicu ledakan konflik.
Pemerintah daerah kini didesak mengeluarkan klarifikasi agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi. Selain itu, mekanisme distribusi bantuan dinilai perlu diperketat dengan pengawasan bersama antara pemerintah, relawan, dan perwakilan warga.
Viralnya video truk yang terbakar ini menjadi pengingat keras bahwa dalam situasi bencana, kepercayaan publik adalah fondasi penanganan. Warga tidak menuntut banyak—mereka hanya ingin bantuan benar-benar tiba di tangan yang membutuhkan, bukan sekadar menjadi latar foto sesaat. ***