BAGANSIAPIAPI - Desa Rantau Bais Kecamatan Tanah Putih Rokan Hilir, Riau merupakan salah satu desa kaya dengan wisata alam. Suasana perkampungan yang memiliki rumah tua berasitekurkan melayu tradisional, desa itu juga jauh dari polusi udara. Di hutan Pulau Tilan, masih banyak spesies satwa liar sehingga sangat cocok untuk kegiatan jelajah alam maupun outbond.
Penghulu Rantau Bais, Al Juflizar mengungkapkan, kesadaran masyarakat desa Rantau Bais sangat tinggi untuk menjaga hutan Pulau Tilan agar senantiasa lestari. Pola hidup masyarakat yang sebagian besar berprofesi nelayan tradisional, sangat jauh dari penggunaan tekhnologi yang nantinya dapat merusak lingkungan.
"Jika ketahuan ada warga mengambil kayu di pulau Tilan, mereka akan mendapatkan sanksi disisihkan pergaulannya dari masyarakat. Hingga saat ini, hutan dipulau itu masih tetap lestari," kata Al Juflizar kepada GoRiau.com, Minggu (24/4/2016).
Ketika menyusuri sungai Rokan sepanjang pulau Tilan, kita dapat menikmati suasana hamparan rumput hijau seperti permadani. Burung Bangau dan Kerbau saling berbagi seperti tidak dapat dipisahkan. Jelas terlihat nyata keserasian habitat satwa yang saling bergantung satu sama lain serta saling keterkaitan. Pepohonan tumbuh dengan sangat rindang serta memiliki batang yang cukup besar. Bahkan, asam kandis, kayu Loban, dan simpuo yang kini menjadi tumbuhan langka, masih terdapat dihutan itu.
Masyarakat desa Rantau Bais masih memegang teguh adat istiadat tanpa tersentuh budaya asing. Jika kilas balik, kita seperti hidup pada kebudayaan melayu zaman tempoe doeloe. Melongok kehidupan masyarakat kampung Rantau Bais seperti tidak ada putusnya. Ada yang menjala, mandi, berenang, mencuci dan lainnya. Mereka sangat bergantung dengan suasana alam terbuka terutama aliran sungai Rokan.
"Beberapa waktu lalu memang sudah ada wisatawan mancanegara berkunjung ke desa ini. Akan tetapi, budaya mereka tidak sesuai dengan adat istiadat serta bertentangan dengan norma. Sehingga warga jadi risih. Namun, kita akan berupaya jika warga asing datang kedesa ini, kita akan berikan kain sebagai penutup aurat ," tutur Juflizar.
Suasana religius masyarakat desa Rantau Bais tidak terlepas dari cerita turun temurun. Menurut Guru Suluk Naksabandiyah, Tuanku Guru Khalifah Muhammad Khatib, desa Rantau Bais dulunya tempat bermukim Tuanku Tambusai yang merupakan seorang pejuang tangguh . Didesa tersebut juga terdapat makam ulama berasal dari Aceh yang wafat ketika mereka menyiarkan agama Islam. Cikal Bakal cerita pulau Tilan pun timbul dari berbagai versi. Ada yang mengatakan, asal muasal dari nama Tilan karena banyaknya sejenis belut bergigi tajam yang hidup didalam sungai Rokan.
Ada tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat desa Rantau Bais, yakni lomba sampan lopap. Ekspresi tradisi tentang kisah seorang nelayan yang mencari ikan dipesisir sungai Rokan. Pertunjukan lomba ini, mampu mengundang masyarakat dari desa tetangga bahkan dari Kabupaten Bengkalis. Karena menurut Al Juflizar, lomba sampan lopap merupakan satu satunya perlombaan yang masih dipegang teguh oleh masyarakat desa Rantau Bais usai merayakan lebaran.
"Perlombaan ini sudah ada sejak saya masih kecil. Jika tidak diadakan, tak semangat rasanya perayaan lebaran," ungkapnya.
Keunikan dari lomba sampan lopap, Katanya, seluruh peserta berkayuh menggunakan tangan. Makna yang disampaikan dalam lomba itu adalah bahwa sebagian besar nelayan Rantau Bais ketika mencari ikan memapah menggunakan tangan didalam semak dan rawa rawa.
"Jika dia rajin masuk dalam rawa rawa, maka akan banyak dapat ikan," tuturnya. Lomba sampan lopap merupakan salah satu bentuk interaksi antara keluarga dan masyarakat usai merayakan lebaran. Kegiatan itu menandakan kentalnya kekerabatan dikalangan masyarakat yang saling melebur dalam rasa sekampung, senasib dan sepenanggungan.
Walaupun demikian, masyarakat Rantau Bais bukannya tertutup untuk wisatawan yang datang kedesa itu. Sebaliknya, mereka bahkan akan menyediakan rumah tinggal (Home Stay) jika ada pengunjung yang ingin bermalam menikmati suasana perkampungan nan religius. Pintu rumah suluk Naksabandiyah juga terbuka lebar bagi pengunjung yang berkeinginan untuk menimba ilmu agama atau sekadar bertukar pikiran.
Dalam pada itu, masyarakat berkeinginan agar pemerintah membangun jembatan gantung yang menghubungkan desa Rantau Bais ke Pulau Tilan. Jembatan gantung akan memudahkan akses pengunjung yang datang untuk melewati sungai Rokan untuk menikmati keindahan pulau Tilan untuk beraktivitas.
"Desa Rantau Bais sangat cocok bagi pengunjung yang sudah bosan dengan kehidupan kota. Disini kami menyediakan suasana perkampungan yang tidak terdapat didaerah lain. Jika perlu, kami menginginkan desa ini menjadi salah satu tujuan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara," kata Al Juflizar.(amr)