PANGKALAN KERINCI, GORIAU.COM - Malang benar nasib para pekerja yang mengerjakan renovasi pembangunan gedung DPRD Pelalawan. Pasalnya, sudah hampir tiga bulan ini mereka belum mendapatkan upah dari hasil kerja yang mereka lakukan. Alhasil, jangankan untuk mengirimkan uang ke sanak keluarga mereka di kampung, untuk makan sehari-hari pun, mereka harus utang kesana-kemari.

"Kami tak tahu apa persoalannya, katanya uangnya belum cair, tunggu termin lah. Kami mungkin bisa paham soal itu, tapi di sisi lain keluarga kami di kampung pun perlu makan juga. Ini jangankan mengirimkan uang di kampung, untuk kami sendiri kembang-kempis," ungkap salah seorang Pekerja yang tak mau disebutkan namanya kepada sejumlah media di Gedung DPRD Pelalawan, Selasa (5/3/2013).

Ironisnya lagi, salah seorang dari mereka yang wanti-wanti tak mau ditulis namanya, bahkan sampai tak bisa menjenguk ibunya yang saat ditinggalkan kerja membangun Gedung DPRD Pelalawan ini dalam keadaan sakit. Pun begitu juga saat ibunya wafat sampai jenazahnya dimakamkan, ia tak sekalipun bisa datang dikarenakan tak ada biaya

"Saya kalau inget itu, sedih banget. Jangankan ketika almarhumah ibu saya sakit, pas ketika beliau meninggal pun saya sampai tak bisa datang, menengok jenazahnya dikarenakan tak ada uang untuk pulang," katanya.

Salah seorang pekerja lain juga mengutarakan keluhannya akibat pembayaran mereka yang tersendat ini. Awalnya, ada sekitar tiga puluh orang (30) yang bekerjha untuk merenovasi gedung wakil rakyat ini. Sejak awal tahun sampai saat ini, upah para karyawan belum dibayarkan sehingga akhirnya sebagian kawan-kawan yang berjumlah 24 orang pulang ke kampung halamannya.

"Ya tenimbang semuanya kelaparan, akhirnya 24 kawan kami pulang dengan ongkos pulang patungan dari kami, cukup nggak cukup yang penting mereka bisa pulang. Jadi saat ini, hanya tinggal enam saja dari kami yang bertahan untuk memperjuangkan hak-hak mareka," katanya.

Ditanya soal pembayaran kewajiban perusahaan atau kontraktor pada para pekerja, salah satu dari mengatakan bahwa dirinya pernah bertemu dengan pemilik perusahaan. Saat itu, pemilik perusahaan atau kontraktor yang diketahui oleh para pekerja bernama Margoni menjelaskan bahwa anggaran termasuk upah yang merupakan hak para pekerja masih menyangkut di PPTK.

"Katanya, termin-nya belum waktunya keluar karena memang belum kelar pekerjaannya sehingga PPTK belum membayarakna ke kontraktor," ujarnya. Terlepas dari persoalan yang ada, sambungnya, para pekerja sebenarnya tak menuntut banyak. Karena, menurutnya, mereka hanya menginginkan hak-hak mereka bisa dibayarkan karena hampir semua para pekerja yang melakukan renovasi gedung DPRD Pelalawan itu memiliki keluarga. Karena itulah, mereka hanya ingin secepatnya hasil pekerjaan yang telah mereka lakukan dapat dibayarkan.

"Kami hanya menginginkan pekerjaan yang sudah kami kerjakan dapat dibayarkan, karena kami juga harus mengirim uang ke keluarga," ujarnya.

Sekedar informasi, proyek renovasi gedung DPRD Pelalawan ini merupakan salah dari tiga proyek luncuran yang masih dikerjakan di tahun 2013. Untuk proyek renovasi Gedung DPRD Pelalawan ini dikerjakan oleh PT Amero Jaya Bhakti dengan pagu anggaran sebesar 2,98 Miliar. (ilm)