PEKANBARU – Kasus kematian seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan kepala yang tergantung kain di pegangan tangan mobil Daihatsu Terios warna silver Nopol 1389 VX, yang terparkir di basement Kantor DPRD Riau, pada Sabtu (10/9), dipastikan adalah aksi bunuh diri. Namun, sejumlah pihak masih merasa janggal, karena posisi mayat tersebut tidak gantung diri dengan seluruh tubuh menggantung di udara.

Menanggapi hal itu, Dokter Forensik RS Bhayangkara Polda Riau, Kompol Supriyanto menerangkan, kasus gantung diri ini dikenal dengan nama incomplete hanging atau gantung diri tidak sempurna. Meskipun demikian, kematian dengan incomplete hanging bisa tetap terjadi.

"Teman-teman banyak yang bertanya. Tapi kasus ini memang sudah pernah terjadi, dan kita juga tidak menemukan tanda-tanda dicekik, yang ditandai dengan patahnya tulang rawan di leher," ujarnya.

Menurutnya, waktu kematian dengan incomplete hanging relatif lebih lama daripada melakukan gantung diri secara sempurna atau complete hanging. Kematian dengan gantung diri terjadi karena jalan nafas yang terhambat.

"Cukup dengan menekan berat kepala saja sudah bisa menyebabkan kematian (dengan menekan jalan nafas). Kita juga menemukan, ada cairan darah keluar dari hidung, ini lazim terjadi pada gantung diri, karena pembuluh darah hidung lebih tipis dan ketika ada penekanan yang menyumbat darah ke otak, akan menyebabkan keluarnya darah itu," jelasnya.

Selain itu, ia juga memastikan bahwa korban tidak dalam kondisi hamil ataupun menggunakan zat-zat terlarang. Korban meninggal dengan perkiraan waktu 24 jam sampai 36 jam saat akan diotopsi.

"Sesuai prosedur kita sudah melakukan pemeriksaan, dalam otopsi tidak ada kehamilan ataupun penggunaan Napza (Narkotika, Psikotropika, dan zat adiktif lainnya)," pungkasnya.

Berita sebelumnya, Polresta Pekanbaru mengungkap kasus kematian Fitri (40) yang mayatnya ditemukan tergantung di pintu Mobil Daihatsu Terios warna silver Nopol 1389 VX, yang terparkir di basement Kantor DPRD Riau, pada Sabtu (10/9), merupakan aksi bunuh diri.

Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru Kompol Andrie Setiawan, dalam konferensi pers, Jumat (16/9/2022) mengatakan, hal itu terungkap setelah kepolisian menyimpulkan semua bukti dan keterangan saksi serta hasil autopsi terhadap mayat.

"Pada tubuh korban yang kita temukan adalah memar ujung lidah, lidah tergigit dan terjulur, adanya kekerasan tumpul yakni dari ikatan yang digunakan untuk gantung diri, menekan nafas hingga menyebabkan Asfiksia (mati lemas). Kemudian, kita tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada bagian tubuh lain, yang beresiko kematian," ujarnya.

"Kita tidak menemukan indikasi atau tanda-tanda yang bertentangan dengan kasus bunuh diri. Maka dinyatakan, korban meninggal akibat gantung diri," jelasnya.

Andrie menjelaskan, pernyataan korban melakukan bunuh diri dilakukan diperkuat dengan temuan barang bukti di lapangan. Dimana, terdapat foto selfie korban di handphonenya beberapa saat sebelum kematiannya.

"Kita menemukan korban melakukan selfie. Ada juga temuan korban masih berkomunikasi pada pukul 13.10 WIB kepada saksi inisial HAM, dan korban mengirim pesan meminta maaf kepada anaknya pada pukul 14.14 WIB," jelasnya.

Tak hanya itu, keterangan saksi inisial SM yang dianggap guru spiritual korban, menyatakan korban sempat berkeluh kesah dan sudah beberapa kali melakukan rukiah (metode penyembuhan pada orang sakit dengan cara mendoakan).

"Berdasarkan penelusuran lanjutan kita, korban juga tidak kehilangan barang pribadi atau berharga," ungkapnya.

Andrie menyebut, pihak kepolisian sudah melakukan pemeriksaan terhadap 28 orang saksi dari lingkungan kerja, keluarga dan kantor korban, serta saksi umum. ***