JAKARTA - Eskalasi militer di Timur Tengah memburuk. Pemerintah Iran resmi menutup total Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran internasional tanpa batas waktu akibat meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS).

Pengumuman penutupan jalur logistik dunia ini dirilis oleh Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) melalui platform X, Kamis (11/6/2026).

"Karena ketegangan yang dipicu pasukan agresif AS dan pengumuman terbaru Angkatan Bersenjata Republik Islam, Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya," papar Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA).

PGSA langsung meminta seluruh maskapai pelayaran bersabar dan menunggu pemberitahuan operasional lebih lanjut.

Saling Serang Militer

Penutupan mendadak ini terjadi sehari setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Iran mengulur waktu perundingan. Washington bahkan mengancam akan melancarkan serangan berskala besar.

Ancaman tersebut menjadi nyata. Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengumumkan pasukannya telah melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Merespons gempuran itu, militer Iran melepaskan tembakan balasan ke pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Jalan Buntu Perundingan

Konfrontasi terbuka ini merupakan kelanjutan dari konflik 28 Februari lalu. Saat itu, jet tempur AS dan Israel meluncurkan serangan udara ke Teheran dan sejumlah titik di Iran yang menewaskan warga sipil.

Ketegangan sempat mereda ketika kedua belah pihak menyepakati gencatan senjata, 7 April lalu. Sayangnya, pembicaraan damai lanjutan di Islamabad, Pakistan menemui jalan buntu dan memicu kembalinya aksi saling serang. ***