BENGKALIS, GORIAU.COM - Wakil Bupati Bengkalis H Suayatno mengatakan dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Bengkalis, ternyata kasus penerita HIV/AIDS tertinggi ada di Bengkalis. Hal ini sangat mengejutkan mengingat Bengkalis bukanlah daerah terbuka seperti halnya kota-kota besar yang penuh dengan dunia malam.

''Kasus HIV/AIDS ini ibarat gunung es, yang nampak di atas belum seberapa bila dibandingkan dengan yang tidak nampak. Sama halnya dengan HIV/AIDS, penderita yang tidak terungkap ke permukaan justru lebih banyak dari yang terungkap,'' kata Suayatno saat memberikan pengarahan pada acara pembentukan dan pelantikan forum warga peduli AIDS, bertempat di aula Kantor Camat Bengkalis, Rabu (19/6/2013).

Suayatno yang juga Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Bengkalis ini mengatakan, memang aktifitas dunia malam di Bengkalis bisa dikatakan tidak ada. Namun, bukan berarti pekerja seks komersial tidak ada. Pada waktu-waktu tertentu seperti weekend atau saat liburan, mereka sengaja datang atau bahkan didatangkan (booking, red) oleh orang-orang tertentu.

''Dari sini saya kira penularan HIV/AIDS di Bengkalis berkemungkinan besar terjadi. Kemudian juga tidak tertutup kemungkinan ada yang jajan diluar,'' kata Suayatno.

Tidak mengherankan, sambung Suayatno, berdasarkan data terakhir, peringkat ketiga tertinggi penderita HIV/AIDS adalah ibu-ibu rumah tangga. Hal itu terjadi bukan lantaran ibu-ibunya yang nakal melainkan karena tertular oleh suami.

''Parahnya lagi ketika berhubungan (intim,red) menghasilkan janin yang berkemungkinan ketika lahir sangat beresiko ikut tertular,'' ujarnya seraya menambahkan, jumlah penderita penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Bengkalis hingga Maret 2013 sudah mencapai 228 kasus. Bahkan angka kematian mencapai 22 kasus.

Dibentuknya forum warga peduli AIDS di setiap kecamatan, Suayatno berharap informasi seputar HIV/AIDS bisa tersosialisasi dengan baik. Hal itu penting mengingat selama ini informasi seputar HIV/AIDS lebih banyak pada hal-hal yang bersifat medis. Namun sangat sedikit sekali yang menyinggung persoalan sosial dan berhubungan langsung dengan masyarakat. Padahah, korban HIV/AIDS justru terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Setidaknya menurut Suayatno, ada tiga pilar dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS. Pilar pertama adalah kesalihan warga dalam menjalankan agamanya. Terkait dengan ini, Pemkab Bengkalis sudah mensosialisasikan program maghrib mengaji. Program tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah dalam menanggulangi HIV/AIDS. Program maghrib mengaji tidak hanya memberikan manfaat meningatkan keimanan seseorang, melainkan pula nilai-nilai yang terdapat dalam Alquran akan terinternalisasi dan direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kontrol sosial masyarakat melalui pemahaman mendalam tentang HIV/AIDS agar masyarakat tidak salah mengambil tindakan dan perlu dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga kesadaran umum, menghilangkan stigma negatif dan diskriminasi. “Ini yang kita lakukan sekarang, pembentukan warga peduli AIDS yang nantinya diharapkan akan ada di setiap desa dan kelurahan,” katanya seraya menambahkan pilar ketiga adalah penerapan aturan hukum.

Disamping pembentukan forum warga peduli AIDS, Suayatno menambahkan, KPA Bengkalis juga mengelar penyuluhan kepada tokoh masyarakat, kepala desa dan tokoh agama terkait pentingnya upaya bersama mencegah dan menanggulangi HIV dan Aids ini. ''Alhamdulillah hal ini sudah kita lakukan pada beberapa kali pertemuan,'' katanya.

Pada acara kemarin pelantikan warga peduli AIDS dilakukan untuk dua desa di Kecamatan Bengkalis yaitu Desa Pedekik dan Desa Pengkalan Batang. Pelantikan dilakukan oleh Ketua KPA Kabupaten Bengkalis H Suayatno dan SK-nya dikeluarkan kecamatan. (jfk)