PEKANBARU - Jumlah titik panas atau hotspot indikasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau menunjukkan tren penurunan. Hingga Kamis (27/8/2026), pemantauan mencatat tersisa 79 titik panas dari sebelumnya yang sempat menyentuh angka 200 titik.

Penurunan tersebut merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi lintas instansi yang melibatkan unsur TNI-Polri, pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pihak perusahaan konsesi, hingga masyarakat setempat. Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan menyatakan bahwa kondisi karhutla saat ini menuntut penanganan kolektif yang terukur.

"Kekuatan kita semua adalah bergotong royong. Tidak ada kegiatan yang tidak bisa kita laksanakan secara parsial untuk menghadapi karhutla yang sudah kita anggap sebagai kejadian luar biasa," tegasnya saat memimpin Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla di GOR Presisi Polda Riau, Kamis (27/8/2026).

Pendekatan Luar Biasa Tangani Karhutla

Menghadapi status kejadian luar biasa ini, Herry meminta seluruh elemen menggerakkan sumber daya secara maksimal. Menurutnya, pencegahan dan deteksi dini sama pentingnya dengan langkah pemadaman saat api telanjur membesar di lapangan.

"Penegasan Bapak Presiden itu serius dan ini menjadi kekuatan kita bersama. Penanganannya juga membutuhkan langkah-langkah luar biasa dengan melibatkan seluruh kekuatan yang ada," paparnya.

Meskipun jumlah hotspot mulai mereda, kepolisian mengingatkan semua pihak agar tidak lengah. Upaya mitigasi seperti patroli rutin, pemantauan area rawan, penyediaan sumber air, serta penegakan hukum bagi pelaku pembakaran lahan harus tetap berjalan secara berkesinambungan.

Pemadaman Darat dan Udara di Kerumutan

Dalam pertemuan tersebut, ditekankan pula pentingnya verifikasi data satelit. Data yang diperoleh dari berbagai sistem peringatan dini seperti Sipongi maupun LAPAN wajib di kroscek secara langsung untuk memadukan pergerakan pasukan darat.

Herry merinci, titik panas di Riau sebelumnya bahkan sempat menembus angka 600 titik. Penyusutan drastis ini tercapai berkat kombinasi operasi pemadaman jalur darat, serangan udara menggunakan helikopter, serta pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Salah satu kawasan yang menjadi fokus utama adalah Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, dengan luas lahan terdampak karhutla mencapai 900 hektare. Saat ini, titik api di lokasi tersebut telah berstatus nihil, namun proses pendinginan tetap dilanjutkan.

"Alhamdulillah, yang 900 hektare di Kerumutan sudah nihil. Itu berkat pemadaman helikopter serta upaya terpadu semuanya," jelasnya.

Sebagai langkah pamungkas, kepolisian memastikan penindakan tegas secara hukum bagi oknum pelaku pembakaran lahan terus digulirkan demi memberikan efek jera, sekaligus mencegah bencana kabut asap terulang kembali. ***