PEKANBARU – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat konflik Iran dan Amerika Serikat memicu volatilitas harga minyak dan mengancam pasokan energi dunia. Namun, perekonomian domestik di Provinsi Riau tetap menunjukkan resiliensi yang tangguh dengan inflasi terkendali serta permintaan pasar yang terjaga.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Riau, Adnan Wimbyarto, memaparkan bahwa APBN tetap berfungsi efektif sebagai peredam kejut (shock absorber). Hal ini terlihat dari kinerja penerimaan negara di Riau yang tumbuh pesat hingga Juni 2026.

Kinerja Penerimaan Negara Tumbuh Pesat

Hingga pertengahan tahun, realisasi pendapatan negara di Riau menyentuh angka Rp15,25 triliun. Capaian ini setara dengan 52,11 persen dari target APBN, serta mencatatkan pertumbuhan 25,00 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Total pendapatan negara ini ditopang oleh beberapa sektor utama:

  • Penerimaan Pajak: Rp8,63 triliun (Tumbuh 23,94 persen YoY).
  • Penerimaan Kepabeanan dan Cukai: Rp5,96 triliun (Tumbuh 28,73 persen YoY).
  • Penerimaan PNBP: Rp662,15 miliar (Tumbuh 8,74 persen YoY).

Lonjakan Pajak Sektor Pertanian dan Industri

Berdasarkan data penerimaan pajak bulan Juni 2026, terjadi lonjakan luar biasa sebesar 33,88 persen pada perputaran kas. Pertumbuhan tertinggi disumbang oleh kelompok pajak PPh yang melonjak 356,42 persen (naik Rp884,85 miliar).

Adnan merinci, kontribusi terbesar untuk jenis pajak PPh 25/29 Badan berasal dari dua sektor tulang punggung di Riau. Sektor Industri Pengolahan meroket 630,37 persen (naik Rp787,96 miliar), sedangkan Sektor Pertanian tumbuh tajam 511,09 persen (naik Rp98,17 miliar).

Realisasi Belanja dan Status APBN Riau

Di sisi kepabeanan, penerimaan bea dan cukai mencatatkan kinerja hampir sempurna dengan realisasi mencapai 99,13 persen dari target.

"Dengan realisasi pendapatan negara sebesar Rp15,25 triliun dan realisasi belanja negara sebesar Rp14,01 triliun, APBN Regional Riau sampai dengan Juni 2026 masih mencatatkan surplus sebesar Rp1,23 miliar," jelasnya, Kamis (30/7/2026). ***