PANGKALAN KERINCI, GORIAU.COM -Peristiwa kebakaran hutan atau lahan beberapa bulan lalu terbukti telah terbukti menyebabkan lingkungan tercemar asap. Akibatnya, sejumlah warga berbagai kalangan terjangkit infeksi saluran pernafasan akut (Ispa).

Kali ini 'musim' asap berganti 'basah'. Kemarau 'disejukan' dengan hujan, namun gantian, ancaman penyakit demam bedarah dan diare 'menghatui' sebagian besar masyarakat di Kabupaten Pelalawan, khususnya yang tinggal di daerah aliran sungai (DAS).

"Dengan kondisi cuaca ekstrim dan tak menentu seperti saat ini, masyarakat dhimbau untuk waspada akan gejala alam yang tak kondusif ini," kata Kepala Dinas Kesehatan Drs Darwis Alkadam M.Si melalui Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Diskes Pelalawan, Asril SKM, pada media ini, Minggu (15/9/2013).

Asril mengatakan bahwa meski di tahun 2013 ini penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) menurun sangat drastis yakni hanya tiga (3) kasus sejak Januari sampai sekarang, namun bukan berarti pihaknya menjadi lengah untuk terus memberikan himbauan dan sosialisasi pada masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan.

"Tahun ini, kasus DBD memang menurun sekali hanya tiga (3) kasus sejak Januari. Penurunan drastis ini seiring dengan terus digalakkannya program Pelalawan Sehat oleh Pak Harris, sehingga secara perlahan masyarakat main menyadari pentingnya menjaga lingkungan yang sehat," ungkapnya.

Namun meski begitu, sambungnya, dengan kondisi cuaca saat ini masyarakat juga jangan hanya mengandalkan program Pelalawan Sehat saja. Maksudnya, masyarakat harus menjaga lingkungan rumahnya masing-masing guna mencegah timbulnya penyakit DBD dengan melakukan 3M yakni Menutup, Menguras dan Menimbun.

"Ini berarti, 3 M merupakan cara yang dipandang lebih efektif dalam memberantas penyakit DBD adalah melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Dan peran program Pelalawan Sehat yang ditaja Bupati Pelalawan memiliki andil yang banyak dalam membangkitkan semangat masyarakat untuk kembali bergotong royong di wilayahnya masing-masing," katanya.

Sementara fogging sendiri, lanjutnya, sebenarnya hanya memutuskan mata rantai saja namun tak mengakibatkan jentik-jentik nyamuknya mati. Dan fogging tidak memberi manfaat jika tidak ada upaya pencegahan dari warga. Tak hanya itu, terlalu sering dilakukan pengasapan atau fogging juga justru akan merugikan lingkungan.

"Pasalnya, zat kimia yang terkandung di dalam obat fogging, tidak hanya memberi efek terhadap serangga dan nyamuk namun juga berpotensi mencemari lingkungan," ringkasnya.(ilm)