JAKARTA – Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Al Muzzammil Yusuf, menyoroti praktik ekonomi serakah atau yang populer disebut serakahnomics dalam sambutannya di Musyawarah Nasional (Munas) VI PKS di Hotel Sultan, Jakarta Pusat, Minggu malam (28/9/2025).

Ia menilai fenomena tersebut menjadi salah satu pemicu keresahan rakyat yang memuncak dalam gelombang protes besar akhir Agustus 2025. "Wajah serakahnomics tampak nyata, mulai dari permainan stok, akal-akalan harga, hingga rente yang hanya menguntungkan segelintir orang," ungkapnya.

Dampaknya, kata Muzzammil, rakyat kecil menjadi korban pertama. "Beras dan minyak tiba-tiba langka, UMKM terjepit, margin keuntungan makin kecil, keluarga berpendapatan rendah terpukul, ketimpangan sosial melebar, hingga anak-anak muda kesulitan mencari kerja. Ini persoalan bangsa dan negara, bukan hanya satu pihak," jelasnya.

Ia menekankan, protes mahasiswa, buruh, petani, nelayan, hingga generasi muda yang meletup beberapa waktu lalu bukanlah gejala instan. "Ada aspirasi yang tulus dari berbagai elemen masyarakat sipil yang menyampaikan keresahan atas kondisi bangsa hari ini," katanya.

Meski begitu, ia menegaskan kebebasan berpendapat harus tetap berada di jalur damai. "Tindakan provokatif dan anarkis yang merusak ruang demokrasi tentu tidak bisa dibenarkan," ujarnya.

Muzzammil mengajak seluruh pihak menjadikan gelombang protes rakyat sebagai momentum evaluasi bersama. "Mari kita jadikan ini sebagai introspeksi nasional, reformasi politik, dan koreksi tata kelola negara. Baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, termasuk TNI, Polri, Kejaksaan, MA, bahkan partai politik. Semua harus berkomitmen pada efisiensi, transparansi anggaran, dan gaya hidup sederhana bagi pejabat publik," paparnya.

Ia menegaskan komitmen itu penting demi mengembalikan kepercayaan rakyat. "Inilah harapan kita bersama ke depan," tutupnya. ***