
JAKARTA – Eskalasi konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel menyisakan dampak kemanusiaan yang mendalam. Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengungkapkan bahwa sepertiga dari total korban jiwa akibat serangan militer tersebut merupakan anak-anak.
"Sayangnya, hingga saat ini, hampir 30 persen dari korban tewas adalah anak-anak," ujar Fatemeh seperti disiarkan stasiun televisi SNN, Jumat (6/3/2026).
Berdasarkan catatan Yayasan Martir dan Urusan Veteran Iran, Kamis (5/3/2026), jumlah warga yang kehilangan nyawa akibat gempuran tersebut telah mencapai 1.230 orang.
Gempuran militer ini tidak hanya memakan korban jiwa, tetapi juga melumpuhkan fasilitas publik dan permukiman warga. Fatemeh memaparkan sebanyak 3.090 bangunan tempat tinggal mengalami kerusakan parah.
Kerusakan turut melanda sektor ekonomi dan kesehatan secara masif. Tercatat 528 toko dan 13 fasilitas medis hancur, sembilan di antaranya merupakan pusat layanan kesehatan milik Bulan Sabit Merah Iran.
Konflik memanas usai Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer ke sejumlah target strategis di Iran, termasuk ibu kota Teheran, Jumat (28/2/2026). Rentetan serangan ini memicu kerusakan infrastruktur sipil dan jatuhnya korban di kalangan masyarakat.
Merespons tindakan tersebut, Iran melancarkan serangan balasan yang menyasar sejumlah wilayah di Israel serta beberapa pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di kawasan Timur Tengah. Rentetan insiden ini memperlihatkan peningkatan ketegangan di kawasan yang selama ini diliputi konflik geopolitik berkepanjangan. ***