
Mungkin netizen pernah membaca kisah pasangan suami istri (Pasutri) yang akan melakukan perjalanan dengan seekor keledai miliknya. Seperti itu pulalah tanggapan masyarakat terhadap peringatan perhelatan hari ulang tahun (HUT) atau hari jadi di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Pasutri ini telah melakukan perjalanan. Sang suami membiarkan istrinya menunggangi keledai, sementara ia berjalan kaki beriringan dengan keledai tersebut. Warga sekitar yang melihat menggerutu dan mengatakan bahwa sang istri tidak tau bagaimana menghargai suami, karena telah membiarkan suaminya berjalan kaki sementara ia menunggangi keledai.
Setelah mendengar gerutu warga, sang istri mempersilahkan suaminya yang menunggangi keledai, sementara ia berjalan kaki. Lagi-lagi warga sekitar menggerutu. Kali ini warga menuding bahwa sang suami tidak tau diri, tega membiarkan istrinya berjalan kaki.
Mendengar gerutu kedua kalinya, sang istri dan suami berunding. Mereka sepakat akan menunggangi keledai tersebut bersama-sama. Setelah beberapa meter berjalan, warga yang melihat kejadian itu terus mencibir. Warga menilai pasutri ini tidak punya hati, sebab tega menunggangi keledai, sementara keledai pasti kelelahan membawa dua manusia di atasnya.
Mendengar cibiran ketiga kalinya, sang suami dan istri berunding. Kali ini mereka sepakat untuk sama-sama tidak menunggangi keledai itu. Lalu Pasutri ini berjalan kaki sambil membawa keledainya. Pemandangan seperti malah membuat Pasutri ini mendapat cemoohan. Warga yang ditemui sepanjang jalan dengan sengaja mengatakan Pasutri ini bodoh, sebab tidak menunggangi keledai yang dibawa itu. Inti dari sepenggal kisah Keledai dan Pasutri di atas adalah, apa yang telah diperbuat belum tentu bisa menyenangkan semua orang. Setidaknya itu pula yang terjadi saat Pemda memperingati hari jadi Kepulauan Meranti.
Berdasarkan catatan GoRiau, Desember tahun 2013 lalu, saat memperingati HUT ke-5 Kepulauan Meranti, Pemda mengundang artis Ibukota Jakarta, Wali Band. Wali pun tampil enerjik di halaman Kantor Bupati Kepulauan Meranti Jalan Dorak Selatpanjang. Ribuan warga dari 9 kecamatan yang tersebar di empat pulau besar Meranti (Pulau Padang, Pulau Merbau, Pulau Tebingtinggi dan Pulau Rangsang) berbondong-bondong datang ke Selatpanjang sejak sore. Mereka ingin melihat langsung grup band Wali yang terkenal religi itu. Jalan Kartini, tepatnya di depan Hotel Grand Meranti, warga tumpah ruah. Jalan menjadi sedikit terhambat, akibat ratusan warga ingin melihat personil Wali Band yang kebetulan nginap di sana.
Usai manggung sekitar pukul 23.30 WIB, ribuan warga pulang. Meski terlihat wajah capeknya, tetapi beberapa warga mengaku puas. Sebab, mereka bisa melihat langsung artis Ibukota Jakarta itu. Lalu, tahun 2014, pada peringatan hari jadi ke-6 Kepulauan Meranti, Pemda kembali mengundang artis Ibukota Jakarta untuk memberikan hiburan. Kali ini, giliran Setia Band (eks personil ST12) yang menghentak bumi melayu, Kota Sagu itu. Setia Band yang membawakan lagu-lagu hits nya mampu membawa ribuan warga Meranti terhanyut bersama. Lirik-lirik lagu yang dilantunkan Charlie Van Houtten diikutin warga Meranti. Memang, lagu-lagu Setia Band atau ST12 telah mendapat tempat khusus di hati warga.
Lagi-lagi grup band ini mampu memberikan hiburan ke masyarakat Meranti. Lalu, apa yang terjadi dengan tanggapan masyarakat.?, tidak sedikit netizen mengomentari bahwa Pemda Meranti melakukan pemborosan anggaran dengan mengundang artis-artis datang ke Kota Sagu. Mereka mengumpamakan uang ratusan juta atau mungkin miliaran rupiah itu kalau dibuat untuk pembangunan jalan tentu akan lebih bermanfaat, daripada harus memeriahkan peringatan HUT Meranti.
Namun, tidak sedikit pula warga yang mengaku senang, karena dengan diundangnya artis, warga bisa melihat langsung idola yang selama ini hanya disaksikan melalui layar kaca. Tahun 2015, pada peringatan HUT ke-7 Meranti, Pemda menggelarnya dengan sangat sederhana. Dimana, untuk memberikan hiburan, Pemda mendatangkan Band Indie dari Jakarta yang bernama Euforia. Pemda juga mengundang penyanyi asal Bandung Winda Zaskia, serta artis bernama Yulenka. Kemudian, guna menyemarakkan dan mengangkat potensi bermusik lokal, Pemda pun mengundang band kebanggaan masyarakat Riau, yaitu Sagu Band. Sagu Band yang memiliki personil asli Riau pun mampu tampil enerjik dan menghibur.
Entah karena adanya realisasi anggaran, ataupun karena alasan internal, untuk peringatan HUT ke-7 Meranti digelar begitu sederhana. Namun, peringatan secara sederhana ini tetap mendapat kritikan dari netizen. Hal itu terlihat jelas saat seorang netizen bernama Ali Imroen mengunggah status di akun facebook miliknya. Waktu itu Ali Imroen menuliskan kata-kata "Hari jadi ulang tahun Kabupaten Kepulauan Meranti ke 6 dan ke 7 terjadi perbedaan yang signifikan, panggung hiburan rakyat juga menyesuaikan keadaan. Jika sebelumnya telah mengundang ST12 Band, D'bagindas, WALI BAND, hari ini Sagu Band yang akan tampil karena jika mengundang artis luar, sebagian masyarakat menilai itu akan menghabiskan angggaran saja, dan hari ini permintaan itu dikabulkan...Alhamdulillah" di facebooknya.
Status ini dilengkapi dengan dua foto yang menampilkan panggung tepatnya di halaman Kantor Bupati Kepulauan Meranti. Hingga pukul 01:45 WIB, Minggu (20/12/2015) tengah malam, status yang diunggah sekitar pukul 18.00-an WIB hari Sabtu (19/12/2015) itu telah mendapat 52 like dan terdapat pula 31 komentar dari Netizen.
Dari status itu, ada yang berkomentar itu sudah tepat dilakukan Pemda Meranti, adapula yang menyarankan kegiatan lain seperti festival budaya. Namun, adapula yang mengkritik. Akun Rahim Atan misalnya. Rahim Atan menuliskan "Kalau sagu band ape tidak aje, lebih bagus pakai orgen tunggal aje, siape mau menyanyi menyanyilah, dibuat 7 hari malam, pentas pun buat sederhana aje, tak perlu pakai pentas yang mahal dari Batam, kalau penampilan band nye tak mantap"Pemilik akun lain, atas nama Marhalim Alahair juga menyampai kritikannya. Honorer DisperindagkopUKM Meranti ini dengan jelas menuliskan bahwa selama ini masyarakat Meranti jarang mengkritisi, sebab masyarakat sudah sejak lama terdidik feodal (semacam kehidupan yang sudah dikendalikan oleh bangsawan atau susunan masyarakat yang dikuasai kaum bangsawan).
Berikut ini komentar yang ditulis Marhalim di status facebook Ali Imroen. "Saya kira kalau soal suka, tentu semua orang suka hiburan. Cuma masalahnya mendatangkan artis ibukota dan dengan panggung dari Batam yang menghabiskan banyak uang itukan pakai uang negara? Lagipula penggunaannya selama ini tidak transparan. Selanjutnya, acara konser yg sudah-sudah, dibikin seakan konser pribadi, ada kelas VIP ada kelas jelata. Padahal pakai duit rakyat. Macamlah mereka bayar lebih pakai kursi VIP segala. Masyarakat jarang yang kritis karena selama ini terdidik feodal, menghormati pejabat publik tidak pada porsinya."Pantauan GoRiau, Marhalim memang merupakan pemuda yang gencar menyampaikan kritikannya ke Pemda Meranti. Hal itu terbukti dari status facebooknya. Marhalim menuliskan tentang peringatan HUT Kabupaten Meranti. Tulisannya berbunyi "Kalau mau jujur, Ulang tahun itu tidak ada gunanya, apalagi dirayakan secara meriah dan mubazir. Mungkin satu-satunya guna ulang tahun adalah untuk introspeksi. Dengan umur yang sudah setua ini apa saja yang sudah dicapai apa saja yang masih kurang. Contoh: Pantaskan sudah 70 Tahun merdeka tapi selama hidup tidak pernah menikmati terangnya lampu PLN? Apakah ada gunanya pemekaran kalau cari kerja saja sama susahnya dengan sebelum pemekaran? dan lain lain dan lain lain...Berkumpullah para pembesar untuk membuat konsep pembangunan yang efektif dan efisien, bukan bercanda tawa dengan pakaian kebesaran tanpa makna. Meranti 19 Desember 2015.Setidaknya begitulah yang terlihat jelas tanggapan masyarakat. Mungkin apabila Pemda tidak memperingati hari jadi bisa-bisa dikatakan kurang menghargai jasa pejuang atau jasa pahlawan.Tapi apapun yang terjadi memang lumrah di dalam kehidupan. Dimana, seseorang yang menjalani aktivitas, orang lain yang mengomentari. Seperti inilah sepenggal kisah yang dirangkum GoRiau dari puncak peringatan HUT ke-7 Kepulauan Meranti.Selamat hari jadi Kota Sagu, Kepulauan Meranti, semoga selalu jaya, amin... ***nb: Tanda baca di komentar netizen telah diubai sesuaikan, namun pesan tetap asli apa adanya.