PEKANBARU - Jika Allah sang maha pencipta berkehendak, tentulah tiada yang sulit baginya untuk melaksanakan kehendaknya. Begitu pula dengan keajaiban yang ada pada diri bocah bernama Rasyid atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Syekh Abdul Rasyid.

Bagaimana tidak, bocah yang kini duduk dikelas 4 SD telah diberikan bakat alami yang sungguh diluar nalar manusia. Namun itulah keajaiban dan keagungan Allah SWT yang ia tunjukkan melalui Syekh Abdul Rasyid, bocah yang lahir di Kota Pekanbaru ini telah menghafal 17 Juz kitab suci Al-Qura'an tanpa bimbingan guru alias bakat dari lahir.

Namun siapa sangka, jika kehidupan Syekh Rasyid sempat dijadikan gunjingan orang, bahkan sang ibunda juga bingung dengan tingkah laku yang tidak wajar dari mulai ia bisa berjalan dan mulai awal masuk sekolah.

Ini adalah kisah kedua, dimana GoRiau.com minggu yang lalu telah mengisahkan kecintaan Syekh Rasyid terhadap Al-qur'an dan sempat mengalami sakit akibat koleksi Al-qura'anya di simpan sang bunda.

Dalam edisi kedua, Minggu (20/12/2015), GoRiau.com akan menceritakan kisah dimana Syekh Rasyid pernah disisihkan dan dibilang bocah aneh di sekolah dan dilingkungan ia tinggal, berdasarkan cerita langsung ibundanya dan melalui kisah yang sudah dibukukan oleh Mujahiddin Nur dalam buku "Suara dari Surga".

Singkat cerita, Yulia sang ibunda Rasyid, makin hari makin aneh dan ganjil melihat tingkah laku anaknya yang tidak seperti anak-anak kebanyakan. Saat Rasyid memasuki sekolah dasar, dia sudah berperilaku aneh dengan menyukai pakaian ala imam dan ulama besar.

Dengan cara berpakaian ala orang Timur Tengah tersebut, acap kali menjadi bahan olok-olokan orang atau teman-teman yang melihatnya. Bahkan tak sedikit yang menyindir "Eh mau nampil dimana? pakaianya aneh, anak ini tak waras ya, dan banyak lagi cibiran-cibiran serupa yang ditujukan ke Rasyid dan ibundanya.

Yulia pun merasa kesal, jengkel, malu dan kasihan melihat anaknya. Di Kota bertuah Pekanbaru, atau bahkan Indonesia sekalipun, untuk anak seusia Rasyid memang tak lazim dengan memakai pakaian baju gamis, sorban, dan igaal (ikat kepala orang arab_red). Apalagi ketika ia jalan-jalan ke Mall atau kemanapun ia pergi selalau menggunakan pakain seperti itu bahkan dengan kebiasaanya membawa Al-qur'an.

Bahkan ia tidak mengenal game, mobil-mobilan, petak umpet, tutup mata atau jenis mainan lainya yang dilakukan anak kebanyakan di Riau. Yang ada dibenaknya hanya menghafal Al-quran, hadits, menulis dan menggambar masjid.

Kecintaan yang berlebihan terhadap Al-qur'an membuat Yulia bingung dan kadang sedih, apalagi ketika ada orang yang mencibir dengan kebiasaan anaknya itu. Yulia ingin agar anaknya mencintai Al-qur'an sewajarnya saja, seperti anak-anak seusianya.

Memasuki usia TK, Yulia berharap Rasyid bisa bersosialisasi dengan teman-temanya dan berharap bisa berubah. Namun tak disangkanya bukan hanya Yulia, bahkan guru-gurunya juga bingung dengan perilaku dan kebiasaan Rasyid. Kecerdasan linguistik, spritual, dan kecerdasan visual begitu dominan dalam diri Rasyid.

Iapun tak segan mengajari kawan-kawanya bermain puzzle dengan menyusun seolah sebagai masjid atau kabah. Bahkan tak jarang ia selalu menyendiri disudut, tatkala gurunya memberikan pelajaran selain agama.

Seperti cerita seorang guru Tk An-nur dimana Rasyid bersekolah, ia pernah ditegur Rasyid, ketika akan mengajari anak-anak menyanyi. "Asthgfirullahal-adzim, ibu jangan ajari anak-anak menyanyi ya, biar Rasyid ajari ngaji aja," pinta Rasyid.

Seakan tiada pilihan, iapun menurti kata-kata Rasyid, dan betapa kagetnya ketika Rasyid benar-benar fasih mengajar rekan-rekanya mengaji.

Dengan perilaku Rasyid yang diluar nalar, Yulia tambah bingung dan panik, iapun membawa Rasyid ke Mall untuk diajak main game, dengan harapan Rasyid bisa sibuk dan tak lagi berbuat aneh.

"Nak kita mau ke Mall tak usah bawa Al-qur'an ya," pinta Yulia. "Tidak bunda, Rasyid tak mau meninggalkan Al-quran," jelas Rasyid seraya memaluk hangat bundanya.

Yulia pun akhirnya pasrah dan hanya bisa berdoa dalam hati. "Ya allah sebenarnya ini siapa? Kalau memang ia benar-benar engkau titipkan kepada hamba, hamba akan menjaganya ya allah," doa Yulia dalam hati.

Walupun dengan cibiran dan hinaan orang sekeliling, Rasyid seakan tak perduli dan tetap pada pendirinya untuk terus belajar dan menghafal Al-qur'an. Demikian lanjutan kisah Rasyid kali ini, insya allah GoRiau.com akan kembali menceritakan kisah Syekh Rasyid berikutnya minggu depan. Bersambung... ***