
PEKANBARU - Model pameran seni konvensional yang kaku perlahan mulai ditinggalkan demi membangun kedekatan antara pembuat karya dan penikmatnya. Pendekatan baru ini diterapkan secara nyata melalui inisiatif interaktif dalam gelaran Artists Art Fair Pekanbaru, Sabtu (27/6/2026).
Mengambil lokasi di Museum Sang Nila Utama, pameran ini hadir sebagai jawaban atas dominasi galeri komersial yang seringkali membatasi ruang gerak seniman. Melalui program khusus, pameran ini mengembalikan fungsi ruang seni sebagai tempat pertukaran gagasan yang bebas dan intim.
Fair Director Artists–Art Fair Pekanbaru, Fachrozi Amri menerangkan bahwa tujuan utama pameran ini adalah mengembalikan seniman ke pusat ekosistem seni itu sendiri. Mereka tidak lagi berada di belakang layar, melainkan berdiri di garis depan untuk bertemu langsung dengan publik.
"Di tengah lanskap seni rupa kontemporer yang sebagian besar dimediasi oleh institusi, galeri, dan berbagai struktur komersial, Artists–Art Fair Pekanbaru menawarkan sebuah model alternatif yang menempatkan seniman di garis depan perjumpaan, presentasi, dan pertukaran gagasan," tegasnya.
Konsep Bertemu Seniman di Booth sukses mengubah atmosfer pameran menjadi lebih hangat. Pengunjung yang datang tidak sekadar melihat pajangan visual, tetapi diajak menyelami narasi tersembunyi serta proses kreatif panjang yang melatarbelakangi setiap goresan warna.
Fokus pameran ini rupanya banyak diberikan kepada bakat-bakat lokal yang telah menghabiskan waktu berbulan-bulan demi menghasilkan karya berkelas. Dedikasi tersebut terlihat jelas dari tingginya kualitas lukisan dan instalasi yang disajikan di 11 stan yang tersedia.
"Kita juga fokus menampilkan seniman lokal. Dengan waktu persiapan 10 bulan, kawan-kawan menyiapkan karya terbaiknya untuk dipamerkan pada art fair Pekanbaru," ungkapnya. ***