SELATPANJANG - Sempena Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) tepatnya pada 23 Juli 2021 dengan tema "Anak Terlindungi, Indonesia Maju" menarik disimak peringatan HAN yang sejatinya adalah bertujuan menggugah kepedulian dan partisipasi untuk menghormati, menjamin dan memenuhi hak-hak anak di Indonesia, khususnya di Kabupaten Meranti.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Kepulauan Meranti, Agusyanto Bakar SSos MSi, mengatakan bahwa tema HAN tahun 2021 ini semacam motivasi bagi anak-anak untuk tetap kreatif walaupun di tengah masa sulit pandemi Covid-19.

"Ya, tema HAN 2021 ini paling tidak dapat di baca semacam dorongan agar anak-anak Indonesia tetap berprestasi, gembira, dan inovatif meskipun berada di rumah selama COvid-19 ini", ungkap Agus, Minggu (18/7/2021).

Menurut Agus, tema ini juga sebetulnya merupakan pengimplementasian dari amanat konvensi hak anak dunia menyangkut pemenuhan dan perlindungan terhadap hak-hak anak. Bahkan Indonesia telah meratifikasi konvensi hak anak dunia melalui Keputusan Presiden Nomor : 36/1990 yang telah terimplementasi melalui konsep pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). KLA merupakan sistem pembangunan berbasis hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak. Guna mengukur keberlanjutan penyelenggaraan KLA, oleh pemerintah penilaian dan pemberian penghargaan peringkat kualitas dan kuantitas KLA di laksanakan secara berkala setiap tahunnya.

"Tahun 2019 lalu Kabupaten Meranti mendapatkan penghargaan KLA pada tingkat Pratama. Ini menjadi semacam stimulus yang mendorong untuk dapat meraih pada tingkatan di atasnya, yaitu tingkat Madya yang untuk tahun 2021 kemaren telah dilakukan penilaian lapangan langsung oleh Kementerian melalui virtual. Mohon doanya" ucap Agus.

Kemudian kata Agus, berbagai upaya dan akan terus dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Meranti untuk mewujudkan Meranti sebagai KLA, terutama melalui penguatan kelembagaan yang merupakan salah satu variabel penting dalam mengakselerasi perwujudan KLA. Di Kepulauan Meranti sudah terbentuk Forum Anak, Gugus Tugas KLA, Forum Genre, bahkan Forum Komunikasi Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (Puspa) Sagu Meranti merupakan forum kedua yang terbentuk di Riau. Puspa Sagu ini forum lintas lembaga, institusi dan organisasi yang memiliki concent pada masalah pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

"Di kita juga sudah terbentuk UPT PPA yang bertanggung jawab khusus dalam pemenuhan hak anak. Juga sudah ada Asosiasi Perusahaan Sayang Anak Indonesia (APSAI) dan kita juga sudah memiliki media layanan pengaduan melalui hotline pengaduan dengan fungsi layanan pengaduan masyarakat, penjangkauan korban, pengelolaan kasus, pendampingan kasus, media dan pendampingan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kita juga punya RTH sebagai tempat bermain anak. Bahkan pada Kamis (15/7) lalu di gedung Afifa, bupati telah mengukuhkan kepengurusan Forum Anak Kabupaten Meranti untuk periode ke depannya," ujar Agus lagi.

Begitu disinggung mengenai program kedepannya dan korelasi program KLA dengan visi-misi bupati, Agusyanto menjelaskan bahwa pihaknya akan mengintensifikasikan media, kelembagaan yang ada termasuk melakukan evaluasi secara kontinyu bagi perbaikan kedepan. Dan yang tak kalah pentingnya mengintensifkan kerjasama lintas OPD, lembaga terutama Bappeda selaku ketua gugus tugas KLA.

"Begitu juga dengan sekolah ramah anak, tentu melibatkan Dinas Pendidikan, juga terkait dengan RSUD dan Puskesmas ramah anak dan sebagainya. Dalam konteks inilah kerjasama terpadu dan terintegrasi lintas OPD sangat diperlukan," ucap Agus lagi.

Selanjutnya, kata Agus, program KLA dengan Misi Misi Bupati Kepulauan Meranti menunjukkan korelasi yang sangat signifikan. Betapa tidak, Visi Misi Bupati menekankan pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

"Ini kita bisa liat pada misi ke-2 yaitu, meningkatkan pemerataan kualitas dan kuantitas SDM beriman dan bertakwa yang memiliki daya saing. Kalau saya menerjemahkannya ini semacam upaya keseimbangan dalam membangun karakter dan skill penguasaan pembangunan," jelasnya.

Kemudian sambung Agus, ini tentu menjadi kata kunci lahirnya kualitas SDM yang tidak saja berilmu, tapi juga berakhlak. Bagaimana mungkin bisa melahirkan kualitas SDM yang demikian, bila abai terhadap pendidikan, kesehatan dan pemenuhan hak-hak anak. Ini nantinya tentu berimplikasi terhadap IPM.

"Selanjutnya, bagaimana membangun kualitas SDM yang memiliki daya saing yang kompetitif, bila di masa anak-anak sudah mengalami traumatis yang hebat, sudah mengalami depresi yang tinggi. Oleh karenanya tentu dibutuhkan perencanaan dan penganggaran dalam mengakomodir pemenuhan hak-hak anak dan ini perlu perhatian dan komitmen kita bersama. Karena perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak, merupakan investasi masa depan," pungkasnya.***