SELATPANJANG, GORIAU.COM - Banyak permainan tradisional pada bulan Ramadan akhirnya lenyap seketika. Tak banyak anak-anak zaman sekarang memainkan permainan yang dulunya ditunggu-tunggu (karena hanya pada bulan ramadan permainan itu akan muncul).
Kalau kemarin kita menceritakan meriam bambu yang mulai hilang, kali ini senter lilin yang mengalami hal yang sama.
Senter lilin berbahan lilin dan kaleng bekas itu merupakan permainan tahunan. Sebab, hanya di bulan ramadan permainan itu akan muncul, dan dimainkan oleh hampir semua anak pedesaan di Kepulauan Meranti (yang dulunya masih Kabupaten Bengkalis).
Bercerita tentang senter lilin, untuk membuatnya tidaklah susah. Kita hanya perlu menyiapkan kaleng susu (dan sejenisnya) bekas, kawat yang digunakan untuk pemegang, kayu mati, dan sebatang paku.
Kaleng susu bekas yang memiliki dua sisi itu, salah satu sisinya terlebih dahulu harus dibolongi. Kemudian, mulailah membuat lubang-lubang kecil pada sisi bagian yang masih utuh dengan menggunakan paku.
Setelah selesai membolongi dan melubangi kaleng bekas tersebut, mulailah membuat dua lubang bagian sisi kaleng. Lubang ini nantinya digunakan untuk mengikat kawat sebagai pemengang senter.
Sebelum kawan itu dijadikan tangkai senter lilin, kawat harus dibagi dua sama panjang. Kawat harus terlebih dahulu diikat pada kayu mati yang kita siapkan tadi. Gunanya, saat lilin dinyalakan, panas dari kaleng tidak akan mengalir langsung ke tangan kita melalui kawat.
Setelah semuanya terikat, senter lilin siap dimainkan. Tunggu lah malam hari tiba, hidupkan lilin berukuran kecil dan pendek, lalu masukkan ke dalam kaleng bekas itu. Alhasil, dari permainan sederhana yang kita bikin tadi menghasilkan cahaya yang bisa digunakan penerang jalan.
Dulu, permainan ini akan muncul saat memasuki 27 puasa (malam 7 likur). Anak-anak ramai memainkan senter lilin, untuk menambah cahaya yang keluar dari api colok sepanjang jalan. Tidak peduli laki-laki ataupun perempuan, semua anak memainkan senter lilin.
Tapi, permainan itu sudah jarang ditemukan saat ini. Entah karena kampung sudah diterangi listrik, atau memang anak-anak zaman sekarang tidak pernah tahu akan permainan itu.
Kini senter lilin dan meriam bambu berada di ambang kepunahan, dengan tidak adanya generasi penerus yang senantiasa melestarikan permainan-permainan anak-anak zaman dahulu.
(zal)