DURI - Dinobatkan sebagai Duta Wisata, Pajero Sport Family (PSF) Chapter Riau dan Jambi tidak pernah berhenti melakukan kegiatan touring untuk mengunjungi berbagai tempat wisata khususnya wisata alam diseluruh penjuru Indonesia. Seperti yang saat ini sedang dilakukan PSF Chapter Riau dan Jambi di titik nol kilometer, Sabang Aceh.

Ketua Rombongan PSF Chapter Riau, yang akrab dengan sapaan Om Wandi ini menyebutkan wisata alam Aceh yang dikunjunginya disela memberikan bantuan untuk korban gempa Minggu (25/12/2016) lalu, sangat indah dan ramah.

Sabang yang berbatasan langsung dengan 3 negara yaitu Malaysia, Thailand dan India ini memiliki destinasi wisata bahari Indonesia yang menawarkan surga bagi para penyelam.

Di sini Anda dapat menikmati alam bawah lautnya dengan menyelam untuk menemukan ratusan spesies ikan dan kekayaan terumbu karang alami yang bukan ditanam atau budidaya.

Perairan di Sabang merupakan tempat bertemunya Samudera Hindia dan Selat Malaka. Saat ini pun Sabang memperlengkapi atraksi wisatanya dengan penyelengaraan Sabang International Regatta.

Pesona Sabang menawarkan keelokan garis pantai yang indah, air laut nan biru dan bersih serta pepohonan nan hijau. Akan tetapi, bukan wisata bahari saja dapat ditemukan di Sabang. Ada gunung, danau, pantai, laut, serta hutannya yang masih alami dan terjaga menunggu dikunjungi.

"Kita sudah sampai di titik nol kilometer dan juga melihat tugu Nol Kilometer yang merupakan cikal bakal istilah, Dari Sabang sampai Merauke. Selain alamnya yang indah, masyarakatnya juga ramah. Kami sudah berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat dan semua itu memberikan pengalaman yang berkesan bagi kami," kata Om Wandi kepada GoRiau.com (GoNews Grup) sambil mengingat ungkapan banyak orang tetang Aceh Kota yang menyeramkan dengan banyaknya kekerasan dan lain sebagainya itu adalah bohong.

Sabang merupakan kota kecil yang indah dengan struktur tanah berbukit-bukit sehingga warga setempat menyebut kota Sabang dengan dua nama yaitu kota bawah dan kota atas.

Sabang terdiri dari lima pulau besar dan kecil, yakni Pulau Weh sebagai pulau terbesar, Pulau Rubiah, Pulau Klah, Pulau Seulako, dan Pulau Rondo. Topografinya meliputi dataran rendah, tanah bergelombang, berbukit dan bergunung, serta batu-batuan di sepanjang pantai.

Perbatasan Sabang di sebelah timur adalah Selat Malaka, sebelah barat dengan Samudera Indonesia, sebelah utara dengan Selat Malaka, dan sebelah selatan dengan Samudera Indonesia.

Kata "sabang" berasal dari bahasa Aceh yaitu "saban" yang berarti sama hak dan kedudukan dalam segala hal. Hal ini dikaitkan dengan keberadaan Sabang yang dulunya banyak didatangi pendatang dari luar untuk membuka kebun (seuneubôk) atau usaha lainnya.

Pendatang tersebut berasal dari berbagai daerah dengan budaya yang berbeda, baik sikap, nilai, maupun adat istiadat. Lambat laun terjadi asimilasi dimana beragam perbedaan tersebut akhirnya memudar dan kedudukan mereka menjadi sama. Istilah saban ini telah lama melekat kepada Pulau Weh yang kemudian perlahan berubah penyebutannya menjadi "Sabang".*** #BENGKALIS