
PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau memprioritaskan pembenahan infrastruktur dasar sebagai kunci pengembangan sektor pariwisata. Akses jalan, listrik, serta fasilitas umum di destinasi wisata kini menjadi fokus utama guna mendukung peningkatan jumlah kunjungan wisatawan yang terus menunjukkan tren positif.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Roni Rakhmat, menyampaikan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah kesiapan infrastruktur, terutama di kawasan-kawasan yang memiliki potensi besar namun masih sulit diakses. Hal tersebut diungkapkan saat ditemui Goriau di Riau Creative Hub, Rabu (2/7/2025) sore.
“Memang kita akui masih banyak yang perlu pembenahan, seperti infrastruktur, akses jalan, listrik, dan lainnya. Itu menjadi kunci utama. Maka perlu kolaborasi antara pemerintah kabupaten/kota dengan Dinas Pekerjaan Umum,” ujar Roni.
Langkah-langkah perbaikan infrastruktur ini dinilai semakin relevan mengingat sektor pariwisata Riau tengah mengalami lonjakan signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Mei 2025 mencapai 23.459 kunjungan, naik 32,37 persen dibandingkan bulan April 2025 yang mencatat 17.722 kunjungan.
Roni menyebutkan bahwa kenaikan ini menjadi bukti bahwa berbagai upaya pembenahan mulai menunjukkan hasil. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan sektor pariwisata tidak bisa dilepaskan dari kenyamanan dan kemudahan akses bagi wisatawan.
“Peningkatan angka kunjungan ini menunjukkan semua elemen mulai mendukung program pariwisata. Tinggal bagaimana kita mengawal dan mempercepat eksekusinya,” katanya.
Memasuki masa liburan sekolah, Dinas Pariwisata Provinsi Riau juga telah menginstruksikan seluruh kabupaten/kota agar meningkatkan kesiapan destinasi wisata, khususnya dalam hal kebersihan, kenyamanan, serta penyajian atraksi yang sesuai dengan minat generasi muda.
“Pasar kita saat libur sekolah ini adalah anak-anak dan keluarga. Jadi atraksinya harus menyesuaikan zaman, cocok untuk dipromosikan lewat media sosial, dan tentu saja aman serta menyenangkan,” jelasnya.
Roni menyoroti sejumlah destinasi yang dinilai sudah cukup siap menjadi contoh pengelolaan wisata di Riau. Istana Siak, misalnya, telah memiliki sistem tiket masuk yang terorganisir dan menjaga kebersihan lingkungan.
Di sektor wisata alam, kawasan Gulamo dan Kopu Crafting di Kampar dinilai telah mengedepankan aspek keselamatan bagi wisatawan.
Roni juga menyinggung Pulau Rupat di Kabupaten Bengkalis, yang sudah masuk Kawasan Strategis Pariwisata Nasional satu dekade lalu. Namun, bantuan dari pemerintah pusat untuk pengembangan kawasan itu dinilai masih jauh dari harapan. Hal ini menunjukkan perlunya pembenahan akses secara serius agar daerah-daerah tersebut benar-benar siap menyambut wisatawan dan menarik investasi.
“Kalau aksesnya saja tidak nyaman, bagaimana wisatawan mau datang? Kita harus selesaikan PR-PR dasar dulu. Yang penting akses bagus, tempat bersih, nyaman, dan punya identitas unik. Kalau itu sudah ada, investor swasta pun akan datang,” tutup Roni. ***