PEKANBARU – Ekonom senior Universitas Riau (Unri) Dahlan Tampubolon menyarankan kalangan industri domestik untuk mengurangi ketergantungan bahan baku dari luar negeri, menyusul makin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS beberapa waktu terakhir ini.

"Kita harus paksa industri domestik untuk mengurangi ketergantungan bahan baku luar, supaya gigitan inflasi dari monster kurs ini gak sampe merusak daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah yang gak punya akses ke mata uang dolar," kata Dahlan dalam catatannya kepada GoRiau.com, Jumat (29/5/2026).

Hal ini disampaikan Dahlan menyikapi pernyataan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono baru-baru ini yang menyebut ada jutaan petani Indonesia yang justru menikmati keuntungan besar dari situasi saat ini. Wamentan menyebut para petani dan pelaku UMKM ekspor di sejumlah daerah kini merasakan dampak positif karena nilai tukar dolar yang tinggi membuat hasil ekspor mereka lebih menguntungkan.

“Ekspor kopinya dibayar pakai dolar, ekspor karetnya pakai dolar, ekspor cengkeh, gula aren, gula kelapa, serabut kelapa, ekspor macam-macam,” ujar Sudaryono.

Namun di sisi lain, pemerintah juga mengakui pelemahan rupiah tetap menjadi tantangan karena beberapa kebutuhan pangan nasional masih bergantung pada impor.

Menurut Dahlan, fenomena yang diungkap Wamentan Sudaryono kalau dibedah dengan kacamata Teori Ekonomi Internasional, hal ini sejalan dengan Hukum Depresiasi Mata Uang dalam perdagangan global. Begitu rupiah melemah, harga barang ekspor kita jadi jauh lebih murah dan kompetitif di pasar internasional. Sebaliknya, begitu hasil penjualan dalam bentuk dolar itu dibawa pulang dan ditukarkan ke rupiah, nilainya langsung melonjak drastis.

"Inilah yang kita sebut sebagai windfall profit atau keuntungan kaget bagi para pelaku UMKM ekspor dan petani lokal di daerah, mulai dari Jember, Kulonprogo, sampe orang di Riau ni," katanya.

Kondisi saat ini, sebutnya, sebenarnya mengonfirmasi teori Marshall-Lerner Condition, yang menyatakan bahwa depresiasi mata uang baru bisa memperbaiki neraca perdagangan kalau elastisitas permintaan ekspor dan impor itu kuat. Sektor perkebunan Indonesia punya posisi tawar yang kokoh karena dunia tetap butuh kopi, karet, dan sawit, mau seberapa mahal pun kondisinya.

"Jadi, begitu rupiah anjlok, volume ekspor kita berpotensi naik, dan secara agregat, ini bisa menjadi bantalan biar ekonomi nasional gak langsung tersungkur masuk jurang resesi," jelas Local Expert Kanwil DJPb Riau Kementerian Keuangan ini.

Meski demikian, lanjutnya, kita tidak usah senang dulu karena monster ekonomi ini punya wajah ganda yang mematikan. Sisi gelap dari pelemahan kurs ini adalah imported inflation alias inflasi jalur impor yang sekarang mengancam isi piring kita.

"Fakta konkretnya, isi perut bangsa ini masih sangat tergantung sama barang luar; mulai dari gandum, kedelai, sampai pupuk kimia. Begitu rupiah keok, biaya modal untuk mendatangkan bahan pangan itu otomatis melonjak tinggi, dan ujung-ujungnya rakyat kecil juga yang tercekik pas mau belanja kebutuhan pokok," paparnya.

Dahlan menilai, pelemahan rupiah saat ini adalah ujian sekaligus peluang nyata, tergantung seberapa cerdik kita menari bersama monster ekonomi global ini. Argumen Wamentan Sudaryono, katanya, ada benarnya untuk konteks petani komoditas tertentu, tapi itu baru separuh dari cerita utuh ekonomi kita. Transformasi struktural adalah harga mati.

"Kita harus dorong hilirisasi pertanian agar yang diekspor bukan lagi bahan mentah, sekaligus memperkuat kedaulatan pangan di dalam negeri. Cuma pakek cara konkret kek gitu la kita bisa mengubah hantaman krisis menjadi lompatan kemandirian ekonomi yang disegani lawan," kata Dahlan. ***