
JAKARTA – Media sosial diramaikan beredarnya potongan video yang memperlihatkan seorang pria meluapkan kemarahan di salah satu gerai Roti’O. Amarah itu diduga dipicu karena seorang lanjut usia tidak dapat bertransaksi menggunakan uang tunai rupiah. Gerai tersebut diketahui menerapkan metode pembayaran non-tunai atau cashless.
Video singkat itu dengan cepat menyebar dan memantik perdebatan warganet. Sebagian menilai kebijakan pembayaran non-tunai menyulitkan kelompok tertentu, terutama lansia. Sementara lainnya memahami langkah digitalisasi transaksi sebagai bagian dari perkembangan layanan ritel.
Menanggapi hal tersebut, manajemen Roti’O menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun Instagram resmi. Pihak manajemen menyebutkan bahwa penggunaan aplikasi dan transaksi non-tunai di gerai bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi pelanggan sekaligus menghadirkan berbagai promo.
"Kami mohon maaf atas kejadian yang beredar dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Penggunaan aplikasi dan transaksi non-tunai di outlet kami bertujuan untuk memberikan kemudahan serta memberikan berbagai promo dan potongan harga bagi pelanggan setia kami," tulis manajemen Roti’O dalam pernyataan tersebut.
Manajemen juga menyampaikan bahwa kejadian ini telah menjadi bahan evaluasi internal. Langkah tersebut dilakukan agar pelayanan ke depan dapat berjalan lebih baik dan lebih ramah bagi seluruh pelanggan dari berbagai kalangan.
"Saat ini kami sudah melakukan evaluasi internal agar ke depannya tim kami dapat memberikan pelayanan yang lebih baik. Terima kasih atas masukan dan kepercayaan yang diberikan kepada kami," lanjut pernyataan tersebut.
Kasus ini kembali membuka diskusi publik mengenai penerapan transaksi non-tunai di ruang layanan umum, khususnya terkait aksesibilitas bagi lansia dan kelompok rentan lainnya. ***