
BAGANSIAPIAPI – Ribuan warga tumpah ruah membanjiri pusat kota Bagansiapiapi, Kamis (12/6/2025), dalam perayaan puncak Ritual Bakar Tongkang, tradisi budaya leluhur masyarakat Tionghoa yang kini menjadi agenda nasional tahunan. Arus manusia padat terlihat sejak pagi hingga sore, membentuk lautan manusia yang mengikuti arak-arakan miniatur tongkang dari Kelenteng Ing Hock King menuju lokasi pembakaran di Jalan Baik-Baik.
Warga keturunan Tionghoa dari berbagai daerah di Indonesia, terutama perantau asal Bagansiapiapi, memadati kota kecil ini sejak Selasa (10/6/2025). Hotel, wisma, bahkan rumah-rumah warga penuh menampung tamu yang datang mengikuti prosesi sakral ini. Mereka datang dari Jakarta, Medan, Pekanbaru, Batam, dan sejumlah kota besar lainnya. Meski tidak sebanyak tahun sebelumnya, sejumlah warga dari Malaysia dan Singapura juga terlihat hadir.
Ritual yang telah berusia ratusan tahun ini mengenang kisah nenek moyang warga Tionghoa yang memilih menetap di Bagansiapiapi dan membakar tongkang mereka sebagai simbol tidak akan kembali ke Tiongkok. Lokasi pembakaran berada di titik historis Jalan Baik-Baik, tempat dulu tongkang itu pertama kali dibakar.
Prosesi dimulai dari Kelenteng Ing Hock King di Jalan Aman. Miniatur tongkang yang diarak dikelilingi puluhan ribu warga, menyusuri Jalan Kelenteng, Perniagaan hingga ke lokasi pembakaran. Di sepanjang rute, warga tampak membakar hio sebagai bagian dari penghormatan leluhur dan permohonan rezeki.
Berbeda dari tahun sebelumnya, panitia tahun ini memasang 1.000 tiang lampion di kiri-kanan jalan, mulai dari Jalan Kelenteng, Sentosa, Merdeka, Perdagangan, hingga titik akhir pembakaran. Suasana makin semarak dengan pentas seni dan hiburan yang digelar malam sebelumnya, menampilkan artis dari Taiwan di Gedung IP Plaza.
Bupati Rokan Hilir, H Bistamam, bersama Wakil Bupati Jhony Charles membuka secara resmi rangkaian acara pada Rabu malam. Puncaknya, Kamis siang, Gubernur Riau Abdul Wahid bersama Kapolda Riau Irjen Herry Harjawan tiba sekitar pukul 11.45 WIB dan disambut di Mess Pemkab Rohil di Jalan Perwira sebelum menghadiri prosesi pembakaran.
Sekitar pukul 15.40 WIB, arak-arakan besar dimulai. Warga berdesakan mengikuti jalannya prosesi hingga tongkang dibakar. Momen klimaks terjadi saat dua tiang layar tongkang yang dibakar tumbang ke arah laut. Dalam kepercayaan warga, arah jatuhnya tiang menjadi simbol arah datangnya rezeki selama satu tahun ke depan.
"Tahun ini kedua tiang jatuh ke arah laut. Itu pertanda baik menurut kepercayaan kami, rezeki akan datang dari laut," ujar salah satu tokoh masyarakat Tionghoa yang enggan disebut namanya.
Namun di balik semarak tradisi ini, kritik juga muncul. Pemerintah daerah dinilai belum optimal dalam mengelola potensi besar Bakar Tongkang sebagai agenda budaya berskala nasional. Fasilitas umum terbatas, pengelolaan arus pengunjung kurang tertata, dan akses transportasi masih menyulitkan pengunjung dari luar daerah.
Sejumlah warga berharap ke depan pemerintah tidak hanya hadir dalam seremoni, tetapi juga serius menjadikan Bakar Tongkang sebagai pengungkit ekonomi lokal, sekaligus menjaga esensi budaya yang mengakar kuat di tengah masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi.