JAKARTA – Aksi protes yang digagas anak muda Maroko berujung pada salah satu penangkapan massal terbesar dalam sejarah negara itu. Sedikitnya 2.480 orang, sebagian besar dari kalangan Generasi Z, kini ditetapkan sebagai tersangka karena ikut dalam demonstrasi yang awalnya hanya menuntut hal-hal sederhana: perbaikan layanan publik di bidang pendidikan dan kesehatan.

Kejaksaan Agung Maroko, Selasa (28/10/2025), mengonfirmasi bahwa 1.400 di antara mereka telah ditahan. “Sekitar seperlima di antaranya didakwa melakukan pemberontakan, sementara sepertiga lainnya dituduh menyerang aparat atau menghasut tindakan kriminal,” ujar pejabat Kejaksaan, Hassan Farhan, dalam konferensi pers di Rabat.

Hingga kini, pengadilan telah menjatuhkan vonis terhadap 411 orang, termasuk 76 anak di bawah umur. Sebagian dijatuhi hukuman penjara hingga 15 tahun atas tuduhan vandalisme dan pembakaran, sementara lainnya mendapat hukuman percobaan.

Gerakan yang menamakan diri Gen Z 212 itu muncul dari media sosial, didorong oleh keresahan anak muda terhadap kesenjangan sosial dan biaya hidup yang terus melonjak. “Kami hanya ingin sekolah yang layak, rumah sakit yang bisa diakses, dan pemimpin yang tidak korup,” tulis akun resmi gerakan itu di platform X.

Namun tuntutan sederhana itu berubah menjadi bentrokan besar setelah aparat keamanan menindak keras aksi yang digelar di berbagai kota, termasuk Agadir dan Casablanca. Dalam kekacauan itu, tiga orang dilaporkan tewas.

Saksi mata menyebut suasana semula damai. Para demonstran membawa poster bertuliskan “Kami Hanya Ingin Hidup Layak”, sebelum polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. “Semua berubah dalam hitungan menit,” kata Leila, mahasiswa 21 tahun yang ikut turun ke jalan. “Kami tidak membawa senjata, tapi kami diperlakukan seperti pemberontak.”

Asosiasi Hak Asasi Manusia Maroko (AMDH) menilai penangkapan massal ini sebagai bentuk pembungkaman terhadap kritik publik. “Sebagian besar terdakwa hanyalah anak muda yang menuntut hak dasar,” kata juru bicara AMDH, Samir El-Khalfi. Ia juga menyebut banyak laporan polisi disusun di bawah tekanan.

Menanggapi tudingan tersebut, Kejaksaan menegaskan seluruh proses hukum telah sesuai undang-undang. “Kami menjamin semua syarat pengadilan yang adil,” ujar Farhan. Namun pernyataan itu belum cukup meredakan kritik dari kelompok sipil maupun lembaga internasional yang menyoroti keras tindakan pemerintah.

Sosiolog Universitas Mohammed V, Dr. Amina El Fassi, mengatakan kemarahan anak muda Maroko adalah “bom waktu sosial” yang sudah lama terpendam. “Generasi ini tumbuh dengan internet dan melihat dunia di luar sana. Mereka tahu apa yang pantas mereka dapatkan, tapi sistem sosial Maroko belum berubah banyak sejak dua dekade lalu,” ujarnya.

Selama dua pekan, gelombang protes melanda hampir semua kota besar. Di media sosial, tagar #GenZ212 dan #JusticeForMarocYouth sempat menjadi tren global. Namun setelah Raja Mohammed VI menyerukan reformasi sosial dan menjanjikan anggaran sebesar USD 15 miliar untuk sektor pendidikan dan kesehatan, tensi protes mulai mereda.

Dalam pidato kenegaraannya, Raja Mohammed VI menyebut bahwa ketimpangan sosial adalah “tantangan moral sekaligus politik terbesar bagi Maroko modern.” Ia berjanji akan memperluas akses pendidikan gratis dan memperbaiki layanan kesehatan di wilayah pedesaan.

Meski demikian, banyak aktivis menilai langkah itu belum cukup. “Reformasi bukan hanya soal uang, tapi tentang kebebasan bersuara dan rasa aman bagi warga yang berani mengkritik,” ujar aktivis HAM, Nadia El Amrani.

Pengamat politik dari Moroccan Institute for Policy Studies, Karim Ait Lahcen, menyebut protes Gen Z 212 sebagai “cermin perubahan sosial” di Afrika Utara. “Mereka bukan generasi yang takut, melainkan generasi yang menuntut didengar. Pemerintah harus berhenti menganggap kritik sebagai ancaman.”

Kini, ribuan keluarga masih menunggu kabar dari anak-anak mereka yang ditahan. Banyak yang belum tahu di mana mereka ditahan atau kapan persidangan digelar. “Anakku hanya ikut membawa spanduk, sekarang ia dianggap kriminal,” kata seorang ibu di Casablanca kepada Reuters.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa tuntutan sederhana bisa berubah menjadi ledakan sosial ketika ketimpangan dan represi bersinggungan. Di Maroko, suara anak muda yang menuntut masa depan lebih baik justru dijawab dengan borgol dan jeruji. ***