PEKANBARU, GORIAU.COM - Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya menyebutkan akan menjadikan Riau sebagai 'selebritis' pencarian solusi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kabut asap di Indonesia. Dipilihnya Riau tentu saja karena efek kebakaran tahunan yang terjadi selama ini.

Terhitung Riau sudah 17 tahun lebih menjadi pusat perhatian karena musibah karhutla dan kabut asap itu sendiri. Saat kunjungan ke Riau, Selasa (18/11/2014), Siti Nurbaya menyampaikan akan mencari solusi konkrit untuk penanganan karhutla dan kabut asap di Riau.

"Riau bisa dijadikan contoh untuk mencarikan solusi terhadap karhutla dan kabut asap yang terjadi saat ini," kata Siti Nurbaya di hadapan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau.

Rencananya, Siti Nurbaya juga akan mengupas tentang penanganan karhutla dan kabut asap di Tanah Air, termasuk Riau dalam seminar khusus yang akan dihadirinya pada Rabu (19/11/2014) besok di Universitas Gajah Mada (UGM).

"Nanti apa yang saya dapat dari sini juga akan dibawa ke Seminar di UGM besok (Rabu, red)," tandas Siti Nurbaya.

Untuk di Riau, ada hampir seluruh wilayah pernah mengalami kebakaran hutan dan lahan. Sehingga dampak kabut asapnya tidak hanya dirasakan masyarakat lokal saja, bahkan di luar provinsi dan negara tetang.

Beberapa diantaranya seperti Rokan Hilir dengan intensitas kebakaran hutan dan lahan yang cukup besar. Menyusul Bengkalis, Kepulauan Meranti dan beberapa daerah lainnya.

Sementara untuk di Indonesia, selain Riau, ada daerah Kalimantan yang sebagian besar masih dikelilingi oleh hutan dan lahan. Menyusul Sumatera Selatan (Palembang) dan Jambi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Siti Nurbaya melakukan kunjungan pertamanya ke Pekanbaru, Riau, Selasa (18/11/2014). Seperti menteri terdahulunya, Siti Nurbaya juga harus memikirkan bagaimana solusi konkrit menangani dan menyudahi musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang menahun di Riau.

Menteri beserta rombongan disambut langsung Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, H Arsyadjuliandi, Kapolda Riau, Danrem 031/WB, Kajati Riau, Danlanud Roesmin Nurjadin, sejumlah LSM di Riau dan pihak terkait lainnya.

Siti mengakui bahwa dirinya ikut merasakan dan mengikuti perkembangan karhutla dan kabut asap di Riau yang terjadi setiap tahunnya. Bahkan kedatangannya ke Riau salah satunya sebagai instruksi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Ada beberapa LSM yang mengundang Pak Presiden untuk memikirkan bersama-sama akan kebakaran hutan dan kabut asap yang terjadi di Indonesia harus dicarikan solusi konkritnya," kata Siti Nurbaya.

"Katakanlah karhutla, butuh pengamatan dan analisis yang tajam, termasuk solusi konkrit. Kedatangan saya ke sini, juga ingin mendengar langsung dari Pemda dan non pemerintah terkait tentang musibah ini dan apa langkah atau solusi yang telah dilakukan," ujar Siti.

Dikatakannya, harus ada solusi konkrit secara ilmuan dan secara teknis di lapangan. "Itu harus menjadi dasar dalam penanganannya. Namun apa pun itu, kami datang ke sini untuk mendengar secara langsung dan konkrit dari daerah," tandasnya.

Sementara itu, Plt Gubernur Riau H Arsyadjuliandi Rachman, memaparkan bahwa sejauh ini upaya dari pemerintah sudah menunjukkan hasil signifikan. "Kita sudah membagi kerja untuk kondisi-kondisi yang kritis," katanya.

Diantaranya, telah dibentuk secara terstruktur berbagai satuan tugas (satgas) yang dipusatkan di Lanud Reosmin Nurjadin Pekanbaru. Diantaranya Satgas Darat, Udara, Operasional, Logistik, Kesehatan, Penegakan Hukum dan lainnya.

"Memang di awal tahun, cukup parah terjadi kebakaran dan kabut asap, hingga diambil keputusan meliburkan aktivitas sekolah sementara. Namun saat ini kita cukup terbantu dengan intensitas hujan yang cukup tinggi dan rutin setiap harinya," tandas Plt Gubernur Riau.

Dirinya juga menjelaskan, peluang kembali terjadinya kabut asap mulai kecil dengan hujan yang mendera Riau sudah sejak beberapa pekan terakhir. "Untuk itu, seluruh helikopter yang biasanya siaga sudah ditarik seluruhnya," imbuh Plt Gubernur Riau.***