PEKANBARU - Program restorasi gambut kini semakin digalakkan, khususnya di beberapa provinsi yang seringkali mengalami kebakaran hutan dan lahan. Badan Restorasi Gambut (BRG) Indonesia, Universitas Riau dan Pemerintah Provinsi Riau mendorong kerjasama riset untuk restorasi gambut bersama sejumlah lembaga dan universitas di Jepang.

Restorasi lahan gambut dilakukan di Kabupaten Kepulauan Meranti yang meliputi lahan gambut di 10 desa. Daerah ini nantinya akan dijadikan percontohan untuk dapat dikembangkan di beberapa daerah lainnya, baik di Provinsi Riau maupun di tempat lain yang mengalami hal yang sama.

Kepala Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead menyebut, tujuan restorasi ini agar lahan tidak mudah terbakar. Dimana selama ini, hal yang seringkali terjadi adalah lahan mudah terbakar sehingga kebakaran hutan menjadi permasalahan daerah.

"Sebab apabila telah terjadi kebakaran lahan gambut, sangat sulit dipadamkan. Maka dari itu kami akan restorasi agar kebakaran lahan.tidak merambat dengan cepat," katanya dalam keterangan pers pada seminar dan lokakarya Restorasi Gambut di Hotel Aryaduta, Selasa (31/5/2016).

Ketersediaan air yang cukup sangat diperlukan pada lahan gambut, supaya nantinya dapat dilakukan penanaman lahan gambut kembali. Adapun tanaman yang cocok ditanam di lahan gambut adalah sagu, dan sagu adalah tanaman khas daerah Riau.

"Dengan program ini, akan berakibat pada pemulihan gambut di daerah tersebut, sebab telah ditanami sagu, yang mendatangkan hal-hal positif bagi masyarakatnya yang ada di 10 desa tersebut. Diprediksi mampu mendongkrak perekonomian Riau," lanjutnya.

Kedepan, melalui inisiasi pengelolaan gambut yang baik di tingkat desa tetap dikembangkan dan disebarluaskan. Dengan demikian dapat memberikan pengetahuan positif dan dapat memberikan wawasan dalam pengelolaan lahan gambut berkelanjutan serta dapat berjalan lebih efektif di masa mendatang dan dapat wariskan ke anak cucu kita.

Lembaga yang terlibat itu antara lain Universitas Kyoto, Universitas Hukkaido, Researh Institutes of The Humanities (NIHU) dan 11 universitas terkemuka di Indonesia. Kerjasama ini dilakukan sebagai upaya melindungi gambut Riau yang luasnya mencapai 5,7 juta hektar. ***