RAYUAN Pulau Kelapa. Judul lagu yang dulu didendangkan saat tutup acara malam hari di TVRI, nampaknya cocok untuk dinyanyikan lagi di Kabupaten Indragirihilir (Inhil), terutama setelah si putra Mandah Abdul Wahid dilantik menjadi Gubernur Riau.

Betapa tidak. Kabupaten yang memiliki kebun kelapa seluas 440 ribu hektare, atau terluas di tanah air, nampaknya belum memberikan nilai tambah yang besar bagi Inhil maupun provinsi Riau.

Memang, berkat kelapa sudah banyak keluarga yang hidup sejahtera. Bisa menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi, untuk ongkos naik haji, dan sebagainya.

Bahkan, Tembilahan, sebagai ibukota kabupaten juga tampak semarak pada malam hari. Warganya mengenakan barang-barang bermerek, seperti Gucci, Adidas, dan sebagainya. Meskipun dibeli di Pasar Jongkok, yang menjual barang seken dari luarnegeri.

Tapi, seharusnya kelapa bisa memberikan nilai tambah yang lebih banyak lagi. Sebab, kelapa merupakan tanaman "bertuah" yang hampir semua bagiannya bisa dimanfaatkan. Mulai dari daging buah, air, batok, sabut, lidi, dan batangnya pun bermanfaat.

Karena itu, di masa kepemimpinan Gubernur Abdul Wahid ini rayuan pulau kelapa harus semakin sering dikumandangkan ke telinga para calon investor. Kita jangan terpaku di sektor hulu saja, karena hilirisasi kelapa sangat menjanjikan.

Tiongkok, misalnya, membutuhkan cocofiber atau serat sabut kelapa yang sangat banyak. Saat ini kebutuhan mereka dipasok dari Lampung, dan Asahan, Sumatera Utara. Padahal kebun kelapa di sini luasnya tak sampai sepersepuluh kebun kelapa di Inhil. Namun mereka sudah lebih dulu melakukan hilirisasi.

Dari provinsi jiran ini juga sudah lama diekspor lidi kelapa. Menariknya, kelapa yang diekspor ke Malaysia juga tidak dalam bentuk utuh. Tapi dibuang batoknya, sehingga tiba di negeri jiran sudah dalam keadaan botak putih.

Proses hilirisasi ini setidaknya dapat memberikan pekerjaan bagi para ibu rumahtangga di Asahan. Seperti membuang daun dari lidi, dan memisahkan batok kelapa. Sementara sisa batok ini masih dapat dimanfaatkan dengan harga yang bagus.

Selama ini, mungkin yang jadi kendala bagi calon investor adalah masalah pelabuhan ekspor, terutama yang menggunakan kontainer. Sampai saat ini memang belum ada di Riau.

Semoga ini bisa jadi peer bagi Gubernur Wahid, sehingga Riau jangan hanya unggul di luas kebun kelapa saja. Riau harus berupaya untuk menjadi sentra kelapa utama di tanahair. Semoga. ***

* Irwan E. Siregar adalah wartawan senior bermastautin di Pekanbaru, Riau.