PEKANBARU - Profesi Public Relations (PR), atau banyak juga disebut Humas (Hubungan Masyarakat) merupakan disiplin ilmu yang semakin berkembang seiring perkembangan zaman. Di era keterbukaan teknologi informasi saat ini, seorang PR harus bisa menghadapi tantangan 24/7 dan berpikir out of the box sehingga bisa bersaing di blue ocean strategy.

Demikian terungkap dalam Seminar Kehumasan yang ditaja RACE (Research Action Communicating Evaluation) Club Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ikom), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Riau  (UR), Selasa (22/12), di Laboratorium Pariwisata, Kampus UR, Panam, Pekanbaru.

Seminar dengan tema PR wanna be, how to build image and engage the media ini menghadirkan praktisi PR dari akademisi yang juga mantan politisi dan dari salah perusahaan terbesar yang ada di Riau. Manager Corporate Communications RACE Club Mahasiswa Ikom, Azhar mengatakan jurusan Ilmu Komunikasi dengan konsentrasi kehumasan masih terbatas dalam soal praktek, selain kegiatan seminar.

''Kita berharap selain seminar dan diskusi seperti ini, kita juga ingin praktisi PR atau Humas juga dapat memberi perkuliahan kepada mahasiswa sehingga ilmu yang didapat seimbang antara teori dan praktek, ini sudah kita konsultasikan dengan pihak Fakultas," ujarnya.

Ketua Lab Ilmu Komunikasi, Rumiyeni berharap para mahasiswa yang hadir dapat menyerap ilmu kehumasan dari pemateri yang handal di bidangnya. "Ini merupakan proses pembelajaran selain pertemuan di kelas, silakan diserap ilmu sebanyak-banyaknya," harapnya.

Dalam pemaparannya, Djarot Handoko yang menjadi salah seorang pembicara seminar tersebut mengajak para mahasiswa yang tertarik menjalani profesi seorang PR untuk dapat mengimplementasikan ilmunya dalam membangun citra dan reputasi kampus tempat kuliah saat ini. Namun, seorang PR juga harus mampu mencitrakan diri pribadi sebelum mencitrakan organisasi atau perusahaannya.

''Seorang PR harus membiasakan diri untuk selalu berpikir positif, out of the box, mencari informasi, dan menghadapi tantangan 24/7 (setiap jam setiap hari.red), apalagi di era media sosial dengan interaksi berbagai arah saat ini," jelas Corporate Communications Manager PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) ini.

Di sesi tanya jawab, salah seorang peserta, Rorin, menanyakan tentang persiapan seorang lulusan jurusan Ilmu Komunikasi untuk memasuki dunia PR. Sementara peserta lainnya, Tika Widiastuti menanyakan tentang peran PR dalam menyampaikan informasi yang transparan ke publik.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Djarot menjelaskan seorang lulusan komunikasi harus bisa menjawab tantangan dengan cara melakukan langkah konkrit, tidak hanya membangun citra dan reputasi, tapi juga mengambil peluang dari sebuah pemberitaan negatif.

''Mulailah belajar banyak tentang studi-studi kasus bagaimana seorang PR menghadapi isu, cara menangani krisis, membuat news creation, holding statement, membangun komunikasi dengan media dan jurnalis, dan sebagainya, sehingga informasi yang disampaikan bisa jelas, dan publik lah yang menilainya, inilah yang kita maksud blue ocean strategy," jelas Djarot yang sudah belasan tahun berkiprah di dunia PR industri Telco ini.

Sementara itu, pembicara lainnya, Drh. Chaidir, seorang penulis dan akademisi, menekankan pentingnya kredibilitas seorang PR dalam mengkomunikasikan pesan kepada publik.

''Seorang PR harus menyiapkan dirinya, mulai dari kepribadian yang menarik, pengetahuan tempat dia bekerja, dan kredibilitas. Sebab, suksesnya seorang PR tidak ditentukan oleh diri anda sendiri, anda boleh mengaku anda hebat, IPK tinggi, prestasi bagus, tapi jika tidak bisa mengkomunikasi pesan dengan baik, maka anda akan kehilangan kredibilitas, publik tidak akan percaya lagi,,'' jelas mantan Ketua DPRD Riau dua periode ini.

Chaidir menambahkan perkembangan media massa membawa tantangan dan peluang tersendiri bagi seorang PR dalam menjalankan fungsi komunikasi. Menurutnya, media bisa menjadi faktor kesuksesan tapi juga bisa menjadi batu sandungan yang merepotkan bagi pengelola organisasi. Untuk itu, ia mengatakan hubungan PR dan wartawan akan terjalin harmonis jika adanya rasa saling menghargai basic needs (kebutuhan dasar.red) kedua belah pihak.

''Membangun image, dibutuhkan waktu bertahun-tahun dan sebagai seorang PR anda harus mampu membangun image diri sendiri, meski itu tidak mudah, jadi mumpung masih mahasiswa, bangunlah image pribadi anda dari sekarang," pesan Chaidir. (lrs)