SELATPANJANG, GORIAU.COM - Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Kepulauan Meranti mengajak Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop-UKM) untuk menggelar operasi pasar terkait kelanggakaan BBM bersubsidi jenis premium.
"Premium sangat langka saat ini. Disperindag harus lakukan operasi. Untuk memastikan premium tidak di seludupkan atau di timbun," ungkap ketua YLPK, Mulyono SE kepada wartawan, Jumat (8/8/2014).
Menurutnya para spekulan bisa saja memmnfaatkan situasi kelangkaan seperti saat ini dengan menimmbun dan nantinya menjual lagi dengan harga yang lebih tinggi. Jika sudah begitu masyarakat akan sangat dirugikan sekali.
"Jika tidak dilakukan operasi pasar sangat berpotensi minyak subsidi dimainkan oleh para spekulan dengan menimbunnya dan menjual dengan harga tinggi. Jika sudah begitu masyarakat umum sebagai konsumen akan sangat dirugikan sekali," sebutnya.
YLPK, tambah mulyono siap untuk turut serta turun bersama Disperindag untuk melakukan operasi pasar. Karena dengan operasilah bisa dilakukan pencegahan penimbunan minyak dan penyalahgunaan di lapangan.
Salah satu warga Selatpanjang, Japar mengaku kepada wartawan bahwa saat ini sangat sulit mendapatkan BBM jenis premium. Kalaupun ada, katanya harga yang dijual sangat tinggi dari harga biasanya.
"Minyak sudah langka. Memang ada yang jualan, tapi harga nya sangat mahal. Satu botol minuman mineral ukurang 1,5 liter dijual dengan harga Rp 20 ribu - 25 ribu. Itupun tidak penuh," keluhnya.
Senada dengan itu, Khairul warga jalan Rintis Selatpanjang menambahkan dirinya terpaksa harus membeli minyak dengan harga tinggi itu. Jika tidak dia yang berprofesi sebagai tukang ojek tidak bisa bekerja untuk mengantarkan penumpang.
"Ya, mau bagaimana lagi. Mau tidak mau terpaksa harus dibeli. Akhirnya kami terpaksa harus menaikkan tarif ojek. Jika tidak bagaimana bisa beruntung," ujarnya.
Sementara itu, di tempat terpisah, Kepala Disprindagkop-UKM, Syamsuar Ramli saat mengaku bahwa kelangkaan disebabkan kebutuhan premium saat lebaran sangat tinggi. Sementara ada Agen Penyalur Minyak Subsidi (APMS) tidak mengambil premium tambahan lebaran yang berhasil kita perjuangkan.
"Selain itu memang saat ini sudah jadwalnya minyak masuk, namun terdapat kerusakan kapal pengangkut minyak mereka. Kita akan siap melakukan operasi di lapangan. Sehingga nantinya tidak terjadi penimbunan dan kemungkinan premium disalahgunakan dengan menjual kee industri atau ke luar wilayah Meranti," sebutnya.
Dirinya juga mengaku akan memanggil sejumlah APMS yang sudah tidak konsisten lagi dalam menyalurkan minyak subsidi kepada masyarakat. Sehingga nantinya persoalan minyak di Selatpanjang dan sekitarnya bisa diatasi dengan baik tanpa terjadi lagi kelangkaan seperti saat ini.
***