PONOROGO – Setelah kasus tewasnya santri asal Palembang, Albar Mahdi (16), viral di media sosial, pihak Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor (PMDG) Ponorogo akhirnya memberikan pernyataan resmi.

Dikutip dari Kompas.com, juru bicara PMDG Ponorogo, Jawa Timur, Noor Syahid menyampaikan tiga hal penting setelah salah satu santrinya meninggal dunia diduga akibat penganiayaan.

''Atas nama Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, saya selaku juru bicara pondok, dengan ini menyampaikan beberapa hal terkait wafatnya Almarhum Ananda AM, santri Gontor asal Palembang,'' kata Noor Syahid, melalui pernyataan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (5/9/2022).

Pertama, keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor memohon maaf sekaligus menyatakan dukacita atas wafatnya AM, khususnya kepada orangtua dan keluarga almarhum di Sumatera Selatan.

''Kami sangat menyesalkan terjadinya peristiwa yang berujung pada wafatnya almarhum. Dan sebagai pondok pesantren yang concern terhadap pendidikan karakter anak, tentu kita semua berharap agar peristiwa seperti ini tidak terjadi lagi di kemudian hari,'' kata Noor Syahid.

Tak hanya itu, PMDG juga meminta maaf kepada orangtua dan keluarga korban bila dalam proses pengantaran jenazah dianggap tidak jelas dan terbuka.

Kedua, lanjut Noor Syahid, berdasarkan temuan tim pengasuhan santri memang menemukan adanya dugaan penganiayaan yang menyebabkan almarhum wafat.

''Menyikapi hal ini kami langsung bertindak cepat dengan menindak atau menghukum mereka yang terlibat dugaan penganiayaan tersebut,'' jelas Noor Syahid.

Santri Terlibat Dikeluarkan

Menurut Noor Syahid, pada hari yang sama ketika korban meninggal, PMDG Ponorogo langsung mengambil tindakan tegas dengan menjatuhkan sanksi kepada santri yang diduga terlibat.

Sanksi itu berupa dengan mengeluarkan yang bersangkutan dari Pondok Modern Darussalam Gontor secara permanen dan langsung mengantarkan mereka kepada orangtua mereka masing-masing.

''Pada prinsipnya kami, Pondok Modern Darussalam Gontor, tidak memberikan toleransi segala aksi kekerasan di dalam lingkungan pesantren, apa pun bentuknya, termasuk dalam kasus almarhum AM ini,'' jelas Noor Syahid.

Poin terakhir, PMDG Ponorogo siap untuk mengikuti segala bentuk upaya penegakan hukum terkait peristiwa wafatnya almarhum AM ini.

Hingga pernyataan resmi ini diterbitkan, Pondok Modern Darussalam Gontor mengaku masih terus menjalin komunikasi dengan keluarga almarhum AM untuk mendapatkan solusi demi kebaikan bersama.

Belum Buat Laporan

Sebelumnya diberitakan, Albar Mahdi (16), santri Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Ponorogo 1, Jawa Timur, meninggal dunia di pesantren tempatnya menuntut ilmu itu pada 22 Agustus 2022. Pihak keluarga menduga Albar tewas karena dianiaya.

Video kasus kematian Albar yang diduga akibat dianiaya itu viral setelah diunggah pengacara kondang Hotman Paris di akun Instagram @hotmanparisofficial pada Minggu (4/9/2022).

Soimah, ibunda Albar, menceritakan kisah dukanya kehilangan putra sulungnya, Albar Mahdi, kepada Hotman Paris Hutapea, saat Hotman ke Palembang, Sumatera Selatan, (Sumsel), untuk mendampingi korban pemukulan anggota DPRD Palembang, MZ, Minggu (4/9/2022).

Dikutip dari Liputan6.com, Soimah menceritakan, anaknya sudah meninggal dunia sekitar pukul 06.45 WIB. Namun, mereka baru dikabari sekitar pukul 10.40 WIB, Senin (22/8/2022).

Didampingi ayahnya, jenazah Albar, siswa kelas 5i Pondok Modern Darussalam Gontor 1 Ponorogo itu tiba di rumah duka di Kelurahan Sungai Selayur, Kecamatan Kalidoni, Palembang, pada Rabu (23/8/2022) siang.

Jasad Albar Mahdi akhirnya dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Sungai Selayur, pada Rabu sore, tak jauh dari rumah duka.

''(Meninggal dunia) diduga karena tindak kekerasan. Sudah dikubur, tidak ada visum, belum buat laporan polisi. Karena pertimbangan menyangkut lembaga besar, Gontor. Iya (meninggal dunia di Ponpes Gontor 1),'' ucap Soimah kepada Hotman Paris, yang ditayangkan di akun @hotmanparisofficial, Selasa (5/9/2022).

Hotman Paris meminta Polda Jatim dan Polres Ponorog mengusut tuntas kasus tersebut.

Mulanya Disebut Akibat Terjatuh

Setelah viral di media sosial, Soimah menulis surat terbuka Ponpes Gontor 1 Ponorogo. Surat terbuka Soimah itu disebarluaskannya di aplikasi pesan instan WhatsApp Group (WAG).

Dalam surat terbuka itu keluarga korban meminta kejelasan atas meninggalnya Albar. Soimah meminta keadilan dan meminta semua pihak membantunya terkait berpulangnya anaknya secara tidak wajar tersebut.

''Sungguh miris, tragis dan menyakitkan hati saya dan keluarga. Tidak ada kabar sakit atau apapun itu dari anak saya. Tiba-tiba dapat kabar dari pengasuhan Gontor 1 telah meninggal dunia pada Senin, 22 Agustus 2022 pukul 10.20. Padahal di surat keterangan yang kami terima, meninggal dunia pukul 06.45 WIB. Ada apa? Rentang waktu itu menjadi pertanyaan keluarga kami,'' tulis Soimah dalam surat terbuka untuk Ponpes Gontor 1 Ponorogo itu.

Dituturkan Soimah, jasad anaknya akhirnya dibawa pulang dengan didampingi perwakilan Ponpes Gontor 1 Ponorogo, Jatim, Ustaz Agus. Di hadapan pelayat, perwakilan Ponpes Gontor 1 Ponorogo itu menjelaskan bahwa Albar terjatuh karena kelelahan, saat mengikuti Perkemahan Kamis Jumat (Perkajum). Albar dipercaya sebagai Ketua Pelaksana (Ketupel) Perkajum Ponpes Gontor 1 Ponorogo Jatim.

Dugaan Korban Kekerasan

Awalnya Soimah sekeluarga menerima alasan kematian anaknya tersebut. Namun, mereka mendengar kronologi kematian anaknya yang berbeda dari wali santri lainnya.

"'Kami pihak keluarga meminta agar mayat dibuka. Sungguh sebagai ibu, saya tidak kuat melihat kondisi mayat anak saya demikian, begitu juga dengan keluarga. Amarah tak terbendung kenapa laporan yang disampaikan, berbeda dengan kenyataan yang diterima,'' katanya.

Karena tidak sesuai, keluarga korban menghubungi pihak forensik dan rumah sakit, yang sudah siap melakukan autopsi jasad Albar Mahdi. Perwakilan dari Ponpes Gontor 1 Ponorogo Jatim yang mengantar jenazah anaknya, akhirnya mengakui bahwa Albar Mahdi meninggal dunia akibat menjadi korban kekerasan.

Soimah pun meratap dan menyesal karena sudah menitipkan anaknya di ponpes yang terkenal mempunyai pendidikan Islam nomor satu di Indonesia.

Meski ada pengakuan telah terjadi tindak kekerasan di dalam pondok, keluarga korban memutuskan tidak jadi melakukan autopsi.

'''Hal itu dilakukan agar anak saya segera bisa dikubur. Mengingat sudah lebih dari satu hari perjalanan dan saya tidak rela tubuh anak saya diobrak-abrik. Keputusan saya untuk tidak melanjutkan ke ranah hukum didasari banyak pertimbangan,'' ujarnya.

Karena itu, Soimah membuat surat terbuka untuk Ponpes Gontor 1 Ponorogo, Jatim. Pihak keluarga ingin bertemu dengan kiai besar di ponpes tersebut, pelaku, dan keluarga pelaku, untuk duduk satu meja dan menjelaskan kronologis sebenarnya hingga anaknya meninggal dunia.

Namun, surat terbuka Soimah tersebut belum ditanggapi pihak Ponpes Gontor 1 Ponorogo.

Soimah tak ingin kematian anaknya menjadi sia-sia. Dia tak ingin ada lagi korban-korban kekerasan berikutnya. Bukan hanya di Ponpes Gontor 1 Ponorogo, Jatim, tetapi juga di ponpes lainnya.

''Semoga tulisan ini membuka mata masyarakat, memperjuangkan kebenaran dibutuhkan keberanian. Dari saya, Soimah, wali santri Albar Mahdi bin Rusdi yang masih berharap ini hanya mimpi. Dan merasa anak saya belum pulang menimba ilmu,'' sambungnya.***