
PEKANBARU - Provinsi Riau yang mayoritas wilayahnya terdiri dari peraian, kerap jadi sasaran empuk bagi pelaku penyelundupan. Ini ditenggarai lantaran banyaknya pelabuhan tikus sebagai akses berlabuh kapal secara ilegal.
Ini dibuktikan dari serentetan ungkapan kasus mulai dari narkoba, sembako, kayu, barang dagangan, minuman keras (Miras) dan lainnya. Jika ditaksir total seluruhnya sudah bernilai Miliaran Rupiah. Seluruhnya tanpa dilengkapi izin muatan dan pelayaran.
Terkait ini, Kapolda Riau Brigjen Supriyanto, Senin (11/4/2016) siang mengatakan kalau sampai saat ini jajarannya terus mengupayakan untuk memutus akses masuk mereka, dengan memaksimalkan patroli di daerah perairan Provinsi Riau, khususnya yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.
Hanya saja, saat ini Direktorat Polair Riau cuma memiliki 15 kapal patroli. Kapal ini diberdayakan memantau aktivitas daerah pantai sepanjang 300 Mil Laut. "Kekuatan Air kita tidak terlalu banyak dibanding panjang pantai sekitar 300 Mil Laut," sambung dia saat di Subdit Gakkum Makopolair Polda Riau.
Untuk itu, Polda Riau bekerjasama dengan pihak lain seperti Syahbandar, TNI-AL dan Bea Cukai. "Dengan koordinasi ini, pengawasan akan lebih maksimal walaupun masih terbatas unit kita. Hasilnya cukup lumayan, beberapa dugaan penyelundupan berhasil kita gagalkan," pungkasnya.
Terpisah, Direktur Polair Polda Riau, Kombes Denny Pudjianto menambahkan, idealnya untuk luas wilayah perairan Riau, jajarannya semestinya memiliki sekitar 50 unit kapal patroli. "Idealnya 50, kalau sekarang kita punya 15 unit. Tetap kita maksimalkan," singkatnya, Senin siang. ***