
SELATPANJANG, GORIAU.COM - Ekonomi Kabupaten Kepulauan Meranti mencatatkan angka pertumbuhan sekitar 8 persen. Peningkatan itu semestinya memberi dampak pada peningkatan daya beli masyarakat, namun sayangnya, di Meranti justru daya beli menurun.
''Pertumbuhan ekonomi yang tinggi masih dinikmati kalangan atas karena angka inflasi juga ternyata masih tinggi. Karena itu Pemkab Meranti harus mampu menekan meningkatnya angka inflasi,'' ujar Asisten Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Riau, M Abdul Majid di Selatpanjang.
Majid mengatakan pemerintah kabupaten harus mampu mengendalikan angka inflasi agar tidak terlalu tinggi di daerah sebab tingginya inflasi berdampak pada kesulitan masyarakat dalam menutupi berbagi kebutuhan dasar hidup seperti kebutuhan sembako yang tidak bisa ditunda.
''Peran pemerintah sangat menentukan dalam menstabilkan harga bahan pokok. Jika pemerintah lengah, maka inflasi pasti akan terjadi. Untuk itu pemerintah melalui instansi terkait harus tetap memantau harga-harga komoditi penting di pasaran sehingga antisipasi bisa dilakukan lebih dini,'' katanya.
Selain itu, tambahnya, inflasi juga dapat menghambat investasi produktif dan inflasi yang tinggi dalam jangka panjang akan merusak pertumbuhan ekonomi secara macro.
Abdul Majid mencontohkan, secara sederhana di Kepulauan Meranti umumnya masyarakat menggunakan transportasi laut sebagai sarana utama. Sementara secara umum juga mayarakat Meranti masih tergantun dengan produk dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti sembako dan lainnya.
“Jika ongkos transportasi naik, maka kebutuhan barang secara otomatis juga akan naik. Hal ini pasti akan menyebabkan inflasi. Makanya daya beli masyarakat akan menurun karena adanya kenaikan harga. Pengendalian terhadap ongkos akan berpengaruh besar untuk menekan laju inflasi di daerah ini,'' jelasnya. (kpt)