
SELATPANJANG - Pelantar Pasar Juling Selatpanjang, Kepulauan Meranti, ambruk, Senin (3/9/2018). Seorang pedagang ikut terjatuh ke laut, beruntung tak mengalami cidera serius.
Menurut Usman alias Jang, penjual tiket Kempang Selatpanjang - Sialangpasung, ambruknya pelantar itu terjadi Senin pagi. Herman pedagang sayur ikut tercebur ke laut.
"Pagi itu dia (Herman-red) bersiap-siap mau jualan," ujar Usman, Selasa (4/9/2018).
Ditambahkan Usman, saat Herman mengatur barang dagangan pagi itu, tiba-tiba pelantar ambruk. Herman dan sayur-sayuran miliknya jatuh ke laut. Beruntung saat itu anak dan istrinya tak ikut terjatuh.
Sugi, salah seorang pedagang ayam yang lapaknya tak jauh dari lokasi pelantar ambruk mengaku sangat khawatir. Pasalnya, usia pelantar tempat berdagang di Pasar Juling sudah sangat tua. Dibangun zaman Kabupaten Bengkalis.
Selasa siang, Ketua Komisi II Darwin Susandy SHum didampingi dua anggota Dedi Putra SHI dan Asmawi melakukan peninjauan langsung. Mereka melihat kondisi pelantar tempat aktivitas jual beli di Kota Sagu.
Kata Darwin, mereka jauh hari sudah menyampaikan ke Disperindag bahwa pasar yang ada di Sei Juling tak layak lagi digunakan. Selain menyebabkan kemacetan, dan hari itu bisa dilihat pelantar yang dibangun zaman Syamsurizal (Bengkalis-red) sudah rapuh (ambruk).
"Kita khawatir kalau ini digunakan untuk pedagang, akan ada kejadian serupa," ujar Darwin.
Disampaikan Darwin lagi, Dinas PU harus segera meninjau ulang pelantar yang masih tersisa. Mereka harus memberikan jaminan apakah layak dipakai atau pedagang direkomendasikan pindah ke pasar modern.
Ditambahkan Dedi Putra, PU wajib melakukan pemeliharaan pelantar. PU juga harus mengkalkulasi kekuatan lantai pelantar yang tersisa.
"Kalau tak memungkinkan untuk beraktivitas ya dilarang saja," ujar Dedi.
"Kalau kajian itu sudah dilakukan tapi tetap berjualan, itu kesalahan masing-masing. Rezeki mereka kalau pindah ya akan pindah juga, asalkan ada usaha," tambah Dedi.
Sementara itu, Asmawi meminta Dinas PU dan Disperindag untuk bersinergi setelah melihat kondisi terkini di pelantar Sei Juling. Mereka menunggu langkah konkrit seperti apa kebijakan yang anan dibuat dinas terkait.
"Ini sangat tidak layak. Pedagang ini memang harus dipindahkan," ujar Asmawi.
Pantauan GoRiau, pelantar yang ambruk dikarenakan termakan usia. Besi di dalam coran sudah mulai mengeropos dan patah. Bahkan, balok antara tiang pun sudah ada yang putus.
Sementara setiap hari pembeli memadati pasar di Sei Juling. Tentu kondisi ini akan sangat membahayakan andai tidak ad perbaikan di pelantar yang sewaktu-waktu bisa ambruk. ***