
SELATPANJANG - Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kampar datang dan mengadakan pertemuan dengan Legislator Kepulauan Meranti, Rabu (31/5/2017). Dalam pertemuan itu, Legislator Kampar mempelajari proses pembuatan Rencana Induk Pariwisata Kabupaten (RIPKa).
Rombongan dari Kampar disambut langsung oleh Wakil Pimpinan Taufikurrohman, Ketua Fraksi PPP Dedi Putra SHI, Ketua Fraksi PDI-P Asmawi, dan Ketua Fraksi Hanura E Miratna SH. Selain itu hadir juga anggota Komisi III DPRD Kepulauan Meranti Hafizan Abas, Hafizoh, Mundarseh, dan Ketua Komisi I Edy Masyhudi. Sedangkan legislator Kampar hadir saat itu Zumrotun Ketua Komisi II, Hendra Yani Sekretaris Komisi II, dan beberapa anggota lainnya.
Kata Zumrotun, saat ini mereka sedang dalam proses pembuatan Rencana Induk Pariwisata Kabupaten (Ripka). Sementara, di Kepulauan Meranti melalui Dinas Pariwisata sudah mengajukannya ke DPRD dan akan segera jadi Perda. Untuk itulah mereka ingin melihat seperti apa prosesnya. "Kita sharing informasi, kontens nya seperti apa," kata Zumrotun.
Mereka menilai Selatpanjang merupakan daerah tua yang unik. Selatpanjang sudah terkenal jauh sebelum mekarnya Kabupaten Kepulauan Meranti. Mereka pun sudah tertarik dengan konsep pariwisata yang ada di Kota Sagu. "Kami tau di sini ada wisata Bokor, ada perang air, itu sangat menarik," tambah Zumrotun.
Sementara di Kampar, katanya lagi, tidak kalah menarik. Kampar memiliki candi tertua sebelum ada Sriwijaya yaitu Candi Muara Takus. Daya tarik yang dipaparkan alam juga menjanjikan, Kampar Kiri punya air terjun Lubuk Pigau, tertinggi se Asia Tenggara. Kampar juga punya sungai, alam luar biasa, dan beberapa situs sejarah yang ada.
"Namun sampai saat ini ini belum tergarap dengan maksimal. Setelah dari sini kami akan buatkan perdanya," tambah yang lain pula.
Usai pertemuan, Dedi Putra didampingi Asmawi mengatakan bahwa kedatangan Legislator Kampar ke Kepulauan Meranti ingin mengetahui rencana induk pembangunan kepariwisataan. Memang saat ini Pemda Meranti sudah mengajukan RIPKa pada tanggal 23 Mei, telah dibahas dan insyallah akan diparipurnakan tanggal 6 Mei 2017.
"Dari rencana induk tentang pembangunan wilayah-wilayah pariwisata inilah akan melahirkan daerah mana saja perlu dibangun, yang prioritas diprioritaskan. Skala pengembangan kepariwisataan ini dalam rangka menjemput dana dari pusat," kata Dedi Putra kepada GoRiau.
Untuk di Kepulauan Meranti, kata Dedi lagi, ada pusat-pusat kepariwisataan yang sangat menjanjikan. Seperti di Desa Wisata Budaya Bokor. Lalu, Kepulauan Meranti juga memiliki daerah wisata berbasis kelautan seperti di Pantai Beting Beras, dan beberapa tasik yang ada di Kota Sagu juga mempunyai daya tarik tersendiri.
"Pendapatan besarnya kita harap dari sektor penginapan. Bagaimana pun, pengunjung yang datang ke Meranti pasti nginapnya di Selatpanjang," ujar Dedi. ***