PEKANBARU, GORIAU.COM - Para pakar tanah internasional membahas isu terkait pembangunan berkelanjutan pada Konferensi Internasional ke-11 The East and Southeast Asia Federation of Soil Science Societies (ESAFS), Sabtu-Minggu (21-22/10/2013) di International IPB Convention Center (IICC), Bogor.

Kegiatan konferensi dilanjutkan dengan kunjungan ke lokasi Hutan Tanaman Industri (HTI) PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Pangkalan Kerinci, Provinsi Riau. Dua puluh peneliti dari Jepang, Korea dan Indonesia melakukan kunjungan lapangan untuk melihat pengelolaan HTI di lahan gambut maupun di lahan mineral.

Dalam kunjungan tersebut, para pakar turut mengunjungi RGE Technology Center (RTC) yang berlokasi di Komplek RAPP untuk melihat perkembangan grup APRIL dalam pengembangan HTI dan industri pengolahan pulp dan kertas di seluruh area operasional perusahaan, terutama di Provinsi Riau.

Dr. John Bathgate dari RAPP menjelaskan bahwa pengelolaan HTI RAPP berdasarkan pada praktek yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memperhatikan aspek tanah, air, iklim, keanekaragaman hayati, dan lingkungan, dalam rangka menjamin ketersediaan bahan baku pulp dan kertas, serta mempertahankan fungsi sosial dan lingkungan, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sementara itu, Dr. Basuki Sumawinata, anggota Tim Measurement, Reporting and Verification (MRV) Kementerian Kehutanan menyatakan bahwa praktek pengelolaan HTI RAPP diimplementasikan melalui penerapan penyiapan lahan tanpa bakar dan sistem drainase eko-hidro. Praktek terbaik yang dilakukan RAPP tersebut merupakan bagian dari upaya konkret terhadap mitigasi emisi gas rumah kaca (GHG) dari hutan tanaman.

Kalimat ''Seeing is believing'' disampaikan oleh Dr. Bathgate pada kunjungan Prof Ryusuke Hatano dari Hokkaido University Jepang ke lokasi HTI RAPP. Prof Hatano menjelaskan bahwa melalui pengalaman yang panjang selama tiga rotasi tanaman, pertumbuhan dan produktivitas tanaman Akasia dapat dipertahankan dan bahkan ditingkatkan.

Prof Hatano menjelaskan bahwa para peneliti internasional tersebut cukup kagum dengan rotasi tanaman Akasia yang relatif pendek, yaitu lima tahun. Beliau menambahkan bahwa di beberapa negara lain dibutuhkan yang lebih panjang bagi rotasi tanaman Akasia. Prof Hatano turut menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk melihat dan memastikan perkembangan dan kestabilan lahan gambut dalam hal produktivitas tanaman.

''Stabilitas unsur-unsur penting dalam lahan gambut memegang peranan penting dalam tingginya produktivitas tanaman dan juga tanaman Akasia berperan dalam penyerapan karbon terkait mitigasi perubahan iklim,'' ungkapnya.

Para pakar tersebut juga menyempatkan diri melihat uji coba teknologi pintu air otomatis (automatic watergate) yang berfungsi mengatur ketinggian air pada areal tanaman Acacia crassicarpa. Dr. Bathgate menjelaskan uji coba ini ingin melihat bagaimana peran ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mendukung pengelolaan hutan tanaman di lahan gambut secara berkelanjutan.

Kunjungan para pakar internasional tersebut didampingi oleh Dr. Suwardi, Sekretaris Jenderal Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI). Suwardi menandaskan para peneliti tersebut memperoleh penjelasan mengenai perkembangan pengelolaan hutan tanaman baik di lahan gambut maupun di lahan mineral di areal konsesi HTI RAPP. Suwardi menambahkan, aspek penelitian dan pengembangan memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas tanaman baik dari segi produktivitas maupun ketahanan terhadap hama dan penyakit.

Dr. John Bathgate menambahkan bahwa untuk memastikan pertumbuhan tanaman yang baik dengan hasil yang maksimal, tanaman Akasia dipilih dari bibit yang berasal dari materi genetik yang secara terus menerus ditingkatkan kualitasnya, di samping praktek budidaya hutan serta pengelolaan tata air yang tepat. Lebih lanjut, kebutuhan nutrisi tanaman juga harus terus dipelajari dan dikaji, tandas Bathgate.

APRIL sebagai induk perusahaan RAPP menjadi pelopor dalam menerapkan pengelolaan hutan tanaman lestari secara bertanggung jawab. RAPP juga telah lama menerapkan pengelolaan lahan tanpa bakar serta mengadopsi pendekatan bentang alam untuk pengembangan hutan tanaman, dengan memaksimalkan manfaat ekonomi, sosial dan ekologi.

Pengelolaan lahan gambut yang baik serta bertanggung jawab dapat mengatasi masalah perubahan iklim, dengan memanfaatkan hutan tanaman Akasia yang produktif sebagai penyerap Gas Rumah Kaca (GRK) seperti karbon dioksida.

Direktur RAPP, Mulia Nauli, mengharapkan dan mendukung para peneliti dan perguruan tinggi untuk terus memberikan masukan secara ilmiah dan bertanggung jawab bagi pengelolaan lahan gambut di Indonesia, demikian disampaikan oleh. Lebih lanjut beliau menyatakan RAPP tetap membuka peluang untuk berdiskusi dalam rangka kemajuan pengelolaan hutan tanaman industri di Indonesia.

Selanjutnya, RAPP terus menggandeng dan mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan berkelanjutan guna melakukan perbaikan dalam rangka peningkatan kualitas serta produktivitas tanaman. (rls)