DUNIA dihebohkan dengan fenomena yang sedang viral terkait “aura farming “pacu jalur di Kuantan Singingi.  Aksi seorang anak dalam lomba dayung pacu jalur di Kuantan Singingi Provinsi Riau menjadi tren diseluruh dunia, mulai dari klub sepakbola PSG, AC Milan dan berbagai macam tokoh public dan bahkan wakil presiden Indonesia Gibran serta influencer yang mengikuti trendnya yang disebut dengan istilah “aura farming”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlihat keren secara alami tanpa usaha yang berlebihan. Gaya sang penari cilik menjadi contoh sempurna untuk hal tersebut.

Sejarah Pacu Jalur

Mengutip dari laman https://kotajalur.kuansing.go.id/ dijelaskan bahwa pacu jalur di tepian sungai Kuantan Singigi sudah ada sejak abad - 17 dimana jalur merupakan alat transportasi utama warga desa di Rantau Kuantan yakni daerah disepanjang Sungai Kuantan yang terletak antara kecamatan Hulu Kuantan dibagian hulu hingga Kecamatan Cerenti di hilir.

Saat itu memang belum berkembang transportasi darat. Akibatnya jalur itu benar-benar digunakan sebagai alat angkut penting bagi warga desa, terutama digunakan sebagai alat angkut hasil bumi, seperti pisang dan tebu, serta berfungsi untuk mengangkut sekitar 40-60 orang. Kemudian muncul jalur-jalur yang diberi ukiran indah, seperti ukiran kepala ular, buaya, atau harimau, baik di bagian lambung maupun selembayung-nya, ditambah lagi dengan perlengkapan payung, tali-temali, selendang, tiang tengah (gulang-gulang) serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri).

Perubahan tersebut sekaligus menandai perkembangan fungsi jalur menjadi tidak sekadar alat angkut, namun juga menunjukkan identitas sosial. Sebab, hanya penguasa wilayah, bangsawan, dan datuk-datuk saja yang mengendarai jalur berhias itu. Baru pada 100 tahun kemudian, warga melihat sisi lain yang membuat keberadaan jalur itu menjadi semakin menarik, yakni dengan digelarnya acara lomba adu kecepatan antar jalur yang hingga saat ini dikenal dengan nama Pacu Jalur.

Pada awalnya, pacu jalur diselenggarakan di kampung-kampung di sepanjang Sungai Kuantan untuk memperingati hari besar Islam. Namun, seiring perkembangan zaman, akhirnya Pacu Jalur diadakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karena itu Pacu Jalur diadakan sekitar bulan Agustus. Dapat digambarkan saat hari berlangsungnya Pacu Jalur, kota Jalur bagaikan lautan manusia. Terjadi kemacetan lalu lintas di mana-mana, dan masyarakat yang ada diperantauan akan terlihat lagi, mereka akan kembali hanya untuk menyaksikan acara ini. Biasanya jalur yang mengikuti perlombaan, bisa mencapai lebih dari 100. Menurut masyarakat setempat jalur adalah 'perahu besar' terbuat dari kayu bulat tanpa sambungan dengan kapasitas 45-60 orang pendayung (anak pacu). Perlombaan yang konon sudah ada sejak tahun 1903 ini menjadi agenda tetap Pemerintah Provinsi Riau untuk menarik wisatawan nusantara maupun mancanegara untuk berkunjung ke Riau, khususnya di Kabupaten Kuantan Singingi.

Pada masa penjajahan Belanda pacu jalur diadakan untuk memeriahkan perayaan adat, kenduri rakyat dan untuk memperingati hari kelahiran ratu Belanda wihelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus. Kegiatan pacu jalur pada zaman Belanda di mulai pada tanggal 31 agustus s/d 1 atau 2 september. Perayaan pacu jalur tersebut dilombakan selama 2-3 hari, tergantung pada jumlah jalur yang ikut pacu.

Kini warna warni kostum dan dentum suara meriam penanda mulai lomba, serta teriakan pemberi semangat menjadi daya tari budaya local asli Kuantan Singingi Riau yang pantas dinanti dan dinikmati.

Peluang Promosi Wisata Riau

Fenomena ini “aura farming” pacu jalur yang viral dimedia sosial  tentu saja kita sambut secara positif karena mampu mempromosikan budaya dan wisata di Provinsi Riau.Pemerintah Provinsi Riau harus memanfaatkan momentum ini untuk menghadirkan sebuah pagelaran event pacu jalur yang puncaknya akan dilaksanakan  pada tanggal 20-24 Agustus 2025 mendatang di tepian narosa Taluk Kuantan. Viralnya pacu jalur menjelang acara puncaknya akan membuat semua mata dan banyak orang ingin hadir menyaksikannya oleh karena itu perbaikan layanan, penyelenggraan akan menjadi hal yang disoroti oleh para wisatawan. Perbaikan jalan-jalan yang rusak dari pekanbaru ke Kuantan singigi harus menjadi prioritas utama pemerintah provinsi saat ini karena momentum pariwisata budaya seperti saat ini belum tentu akan terjadi lagi kedepannya.

 Viralnya  dimedia sosial fenomona “aura farming “  bisa terjadi karena :

  1. Perubahan pola komunikasi sosial

Viralnya aura farming menandakan terjadinya perubahan pola komunikasi yang terjadi dimasyarakat lewat media sosial. Jika sebelumnya terbatas pada wilayah local dan regional dengan adanya media sosial membuat pacu jalur menjadi perhatian dan dikenal oleh masyarakat Indonesia dan dunia.  Penyebaran informasi tradisi pacu jalur  juga membuat semua elemen masyarakat bisa turut terlibat dalam proses pelaksanaannya meskipun tidak terlibat langsung.

  1. Identitas lokal dan kebanggan lokal

Viralnya aura farming di media sosial memberikan kebanggaan local bagi masyarakat, expresi kebanggaan atas identitas local yang melekat pada kearifan local riau  dan tradisi daerah yang sudah ada sejak abad ke 17 membuat semua masyarakat menjadi terhubung dengan bertambahnya kesadaran dan kebanggaan akan tradisi local. Ini menjadi momentum dalam upaya pelestarian budaya lokal di Provinsi Riau.

  1. Ekpansi dan komodifikasi budaya

Viralnya tradisi pacu jalur membuat strategi promosi budaya yang selama ini dilakukan oleh pemerintah tidak efektif, justu gerakan sosial dari masyarakat sendirilah yang menggerakan dunia digital dengan viralnya aura farming. Pacu jalur dalam konteks dunia digital bukan hanya sekedar pelaksanaan tradisi tapi “ barang dagangan” yang punya nilai aspek komersialisasi.  Pacu jalur juga menjadi sarana hiburan dan tontonan bagi masyarakat di media sosial.

Makna Simbolik “Aura Farming “

Dalam pendekatan interaksionisme simbolitk dari George Herber Mead menjelaskan bahwa interaksi sosial dan symbol-simbol dalam kehidupan masyarakat memiliki makna dari individu dan kelompok . Viralitas  aura farming pacu jalur dimedia sosial jika dilihat dari pendapat mead sebagai proses interaksi simbolik antara masyarakat dengan symbol budaya lokal dalam hal ini pacu jalur. Ketika masyarakat mulai berpartisipasi dalam trend ini mereka tidak hanya berbagai konten, tetapi juga membangun makna sosial sosial dari tradisi pacu jalur dalam konteks dunia digital. Selain itu adanya media sosial juga memberikan ruang bagi individu untuk berinteraksi dengan symbol-simbol budaya lokal. Dalam konteks ini “aura farming” bisa dianggap sebagai symbol yang memiliki makna sosial yang kuat untuk menciptakan identitas kolektif yang baru yang terhubung dengan kesadaran, kebanggaan dan pelestarian budaya lokal.

Dari perspektif sosiologi, viralnya Aura Farming pacu jalur di media sosial tidak hanya mencerminkan perubahan dalam cara masyarakat berinteraksi dengan budaya lokal, tetapi juga menunjukkan bagaimana media sosial dan budaya digital dapat membentuk identitas sosial, membangun kapital sosial, dan bahkan mengubah nilai-nilai budaya menjadi komoditas.

Secara umum fenomena viralnya aura farming dimedia sosial menunjukan bahwa budaya lokal bisa menjadi fenemena global dengan adanya media sosial. Kedepannya diharapkan agar masyarakat bisa untuk terus memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan budaya-budaya local di Riau, bukan hanya mengikuti tren setelah viral namun konsisten untuk terus mengenalkan budaya daerah tanpa harus menunggu viral. ***

* Robi Armilus S.Sos,M.Si adalah Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Riau.