
PEKANBARU, GORIAU.COM - Kegiatan pergudangan dan pabrik pengemasan rokok merek Gudang Garam diduga beroperasi secara ilegal di kawasan konservasi harimau Sumatra Senepis tepatnya di muara Sungai Teluk Dalam, Kelurahan Batu Teritip, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai.
Pabrik pengemasan rokok itu berhadapan langsung dengan Selat Malaka dan patut dicurigai dipakai sebagai tempat transit ekspor rokok ke 'Negeri Jiran' Malaysia.
''Pengamanan pabrik rokok itu dijaga ketat orang bersenjata api. Penjaganya mengaku aparat keamanan,'' kata Maun, 50, tokoh masyarakat kepenghuluan Darussalam kepada Media Indonesia sebagaimana dikutip www.goriau.com, Minggu (4/11/2012).
Maun mengaku mengenali para penjaga pabrik itu sebagai anggota aparat keamanan karena sering berkumpul bersama mereka. ''Ya mereka sendiri yang bilang kalau mereka aparat,'' ujar Maun.
Keberadaan pabrik pengemasan rokok yang sekaligus berfungsi sebagai gudang transit untuk kegiatan ekspor rokok merek Gudang Garam ke Malaysia itu sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bagi warga sekitar Teluk Dalam.
Begitu juga bagi pejabat terkait di daerah itu. Termasuk halnya PT Diamond Raya Timber (DRT) sebagai pemegang izin konsesi hutan produksi Hak Pengusahaan Hutan (HPH) seluas 90.956 hektar di lokasi Teluk Dalam itu.
Namun sebagian besar mereka lebih memilih tutup mulut tentang keberadaan aktivitas ekspor yang diduga rokok selundupan tersebut.
''Informasinya pabrik rokok itu sebelumnya ada di Rupat. Sudah ada sejak 2001 di sana. Kemudian pindah ke Teluk Dalam. Lokasi dijaga, kalau ada yang mendekat pasti ditanya dan diusir pergi,'' ungkap Azan, 27, warga setempat.
Menanggapi aksi penyelundupan rokok Gudang Garam yang diduga ilegal itu, sumber Media Indonesia di Polisi Air Polresta Dumai mengatakan para penyelundup biasanya memang memiliki kapal angkut fiber berkecepatan tinggi dengan mesin 600 PK dan dikawal para penjaga bersenjata api.
Terkait dengan keberadaan pabrik rokok yang diduga dibeking oknum aparat TNI itu, sumber tersebut tak bersedia berkomentar lebih lanjut. "Itu mungkin berada di Rohil (Rokan Hilir) bukan Dumai,'' katanya. (mic)