PEKANBARU, GORIAU.COM - Masyarakat Kecamatan Sabak Auh dan Kecamatan Sungai Apit Kabupaten Siak, mulai mengkhawatirkan kekuatan Jembatan Sultan Abdul Jalil Rachmadsyah atau yang biasa disebut Jembatan Teluk Masjid karena sudah mulai rutin dilewati kendaraan dengan tonase berat.

Karena sebelumnya, kendaraan-kendaraan tersebut tidak pernah melintas bebas di jembatan dan juga diberlakukan larangan dari Pemkab Siak.

Anto Regar, salah seorang pemuka masyarakat Kecamatan Sabak Auh, Kabupaten Siak, mengklaim bahwa kondisi yang terjadi saat ini kemungkinan karena diduga ada permainan oknum dengan pengusaha.

"Salah satunya adalah Dinas Perhubungan yang memang seharusnya memperhatikan kondisi tersebut. Bahkan para petugas yang berada di lokasi seperti buta," kata Anto.

Sementara, katanya, masyarakat sudah sejak sering melakukan protes kepada para petugas di Jembatan Teluk Masjid tersebut, namun tidak ada respons yang tegas. "Ada masyarakat yang membawa beban seberat 18 ton dicegat, sementara jika kendaraan pengangkut sawit yang beratnya 35-45 ton dipersilakan lewat," keluh Anto.

Dirinya juga menuding bahwa para petugas atau oknum Dishub yang bertugas di Jembatan tersebut juga seperti 'main mata' dengan pihak perusahaan. Karena jika angkutan yang dibawa oleh masyarakat biasa atau tempatan, malah diminta sejumlah uang.

"Agar bisa lewat, ada yang meminta duit sampai Rp300 ribu untuk sekali lewat di jembatan. Sementara mobil-mobil pengangkut sawit yang beratnya puluhan ton dibiarkan saja lewat," sambung Anto.

Anto bersama pemuka masyarakat lainnya juga sudah melaporkan kejadian ke Dinas Perhubungan Provinsi Riau. Selain seperti adanya dugaan 'main mata', Anto bersama yang lainnya takut akan kekuatan Jembatan Teluk Masjid yang setiap saat dilewati kendaraan bertonase berat.

"Itu jembatan kebanggaan kami, bagaimana jika jembatan itu tidak bisa bertahan lama hanya gara-gara ada oknum yang lebih mengedepankan kepentingan pengusaha," tanya Anto.

Di tempat terpisah, Kabid Perhubungan Darat Dinas Perhubungan Provinsi Riau, Yasril, Kamis (25/9/2015), mengakui bahwa dirinya sudah pernah didatangi sejumlah masyarakat dari Kabupaten Siak.

Disebutkan Yasril, mereka menceritakan kondisi bagaimana jembatan itu dengan mudah dan sepertinya tanpa pengawasan bisa dilewati oleh kendaraan-kendaran dengan tonase berat.

Disebutkan Yasril, para masyarakat Siak tersebut juga keberatan dengan cara oknum petugas Dishub di jembatan tersebut dalam menerapkan kebijakan tebang pilih untuk kendaraan-kendaraan yang melintas.

"Saya juga sudah didatangi masyarakat (Siak), saya sudah kordinasi dengan Dinas Bina Marga namun sampai sekarang belum ada jawaban berapa tonase yang seharusnya bisa dilewati. Sampai sekarang saya masih menunggu," ujar Yasril.

Menurut Yasril, pihaknya akan terus menyelidiki adanya permainan oknum di lapangan, meskipun itu merupakan kewenangan Dinas Perhubungan Kabupaten Siak. "Nanti akan diselidiki apa benar ada permainan itu," tandas Yasril.

Sementara itu, Kepala Dinas Bina Marga Syafril Tamun saat dikonfirmasi, menjelaskan dirinya baru akan mencari data terkait jembatan teluk mesjid itu untuk mengetahui berapa berat tonase yang bisa dilewati angkutan di jembatan tersebut. "Itukan proyek tahun 2012, nanti saya cari dulu ya,"ujar Syafril Tamun.***