
BAGANSIAPIAPI, GORIAU.COM - Tindan dan ancaman Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti yang menenggelamkan kapal asing yang beroperasi secara ilegal di perairan Indonesia mendapat reaksi positif dari para nelayan di Bagansiapiapi. Dampaknya, karena kapal asing sedikit, hasil tangkapan nelayan Bagansiapiapi semakin banyak.
Ketua Kelompok Nelayan Bagansiapiapi, Jumadi, mengatakan, jika dua hari nelayan belum pulang melaut, itu menandakan bahwa hasil tangkapan lagi banyak. Kebijakan yang berlaku awal November lalu ini, kata Jumadi, telah membuat pasokan ikan di Bagansiapiapi berlimpah sehingga harga cendrung stabil.
''Jika kebijakan menenggelamkan kapal tidak ada, mungkin harga ikan akan naik karena sejalan dengan kenaikan harga BBM. Namun justru sekarang ini harga ikan cendrung stabil," kata Jumadi.
Sementara itu, harga ikan dipasaran berbanding terbalik di Malaysia. Untuk ukuran harga yang paling murah saja seperti ikan kembung, justru harganya melonjak drastis.
''Sudah 16 tahun membeli ikan kembung, baru sekarang ini harganya mencapai 30 ringgit per kilo," kata salah seorang supir Taxi di Kuala Lumpur, Yow Sean Eng kepada GoRiau.com beberapa hari lalu.
Kebijakan Menteri Susi juga mendapat reaksi positif oleh Bupati Rokan Hilir, Suyatno, A.MP. Untuk menindaklanjuti program menteri Susi, Bupati mengeluarkan perintah kepada Dinas Perikanan agar membuat proposal yang nantinya akan disampaikan kepada Menteri Perikanan.
''Bagansiapiapi merupakan penghasil terbesar nomor 2 di dunia. Kita akan membangkitkan kembali seperti membangkitkan batang terendam. Kita juga akan angkat permasalahan nelayan selama ini,'' kata Suyatno usai acara rakor Penghulu dan Lurah sekabupaten Rokan Hilir pada hari Rabu (10/12/2014). Suyatno menilai, program kemaritiman jokowi sangat bagus dan ia nya begitu konsen menjaga kemaritiman yang ada di Indonesia.
Berdasarkan pantauan satelit INDESCO (Infrastructure Development for space Oceanography), kapal-kapal asing mulai meninggalkan Indonesia. Disebut sekitar 3.000 kapal asing berbondong-bondong kabur dari wilayah hukum laut Indonesia. Gambar di satelit INDESCO juga memperlihatkan gambar segitiga dan titik-titik (kapal asing) itu hilang dan bersih. (amr)