PEKANBARU - Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau pada pertengahan Mei 2017 lalu, baru saja menggelar musyarawah besar (Mubes) ke-VII, untuk memilih ketua baru yang akan melanjutkan tanggung jawab besar sebagai penjaga warisan leluhur masyarakat Provinsi Riau.

Pada Mubes yang dilangsungkan di Balai Adat Melayu Riau, Jalan Diponegoro itu, Al Azhar resmi didapuk menjadi Ketua Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau, sementara Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM dipercayakan kepada sosok seorang Syahril Abu Bakar.

Tanggung jawab besar dan eksistensi LAM Riau pun akan jadi tugas utama yang harus dijawab oleh kedua Datuk tersebut, lebih-lebih Syahril Abu Bakar selaku Ketua Umum DPH, yang bakal menjalankan roda kelembagaan sehari-hari, dan mengawal ketetapan hukum/aturan, serta petuah adat budaya.

Syahril Abu Bakar sebetulnya bukan orang baru di LAM Riau. Aktivis itu bahkan sudah sejak lama menjadi 'aktor di balik layar' yang turut menyokong kemajuan lembaga ini. Ia tercatat sudah berkecimpung di sana sejak 2001, saat usianya sudah kepala empat, dengan jabatan sebagai Sekretaris Umum DPH.

"Ketika itu saya mulai mendalami ikhwal soal adat istiadat dan kebudayaan melayu. Bagaimana kita mengkaji, menggali, mengembangkan dan upaya melestarikan nilai budaya serta adat istiadat Riau," buka Syahril Abu Bakar saat berbincang dengan GoRiau.com (GoNews Grup).

Lama-lama hasrat Syahril Abu Bakar untuk mempelajari dan menggali warisan leluhur ini kian dalam. Hal tersebut tentu tidak mudah, mengingat kemajuan tekhnologi sedikit banyaknya sudah menggerus nilai-nilai tersebut. Tak patah arang, langkah kakinya terus maju hingga sekarang.

"Ini tantangan bagi saya, bagi LAM Riau, yakni melestarikan adat budaya, menggali kembali warisan leluhur, baik dalam bentuk fikiran (buah pemikiran, red) hingga benda-benda bernilai historis. Komitmen itu yang harus terus dijaga bagi kami, termasuk masyarakat Riau," kisah dia.

Sejak dibentuk sekitar tahun 1970-1971 silam, LAM Riau sampai kini tetap menjaga marwah melayu, yang seiring sejalan dengan kemajuan Provinsi Riau dalam berbagai bidang. Syahril berprinsip, Lembaga yang ia pimpin tersebut harus bisa lebih lagi memberikan kontribusi untuk pemerintah dan masyarakat.

LAM Riau punya andil dalam pelestarian nilai-nilai sosial budaya, sebagai landasan memperkuat dan memperkokoh jati diri masyarakat melayu. Selain itu juga untuk mewujudkan masyarakat adat berbudaya melayu yang maju dan sejahtera. Ini diakui Syahril akan dapat terwujud dengan komitmen yang besar.

"Yang perlu kita majukan adalah masyarakat. Intinya di situ, karena jika masyarakatnya maju maka maju pula daerah tersebut, sehingga kesepakatan kita bernegara tercapai, yakni mensejahterakan masyarakatnya. Peran kita di lembaga adat adalah mendorong itu semua," yakin mantan Ketua DPP KSBSI (2006-2013) ini.

"Kalau LAM bekerja baik, masyarakat pun sejahtera, maka pemerintah bisa terbantu. Karena tujuannya sama, menjesahterakan masyarakat. Ini paradigma yang perlu diperhatikan dan disosialisakan, termasuk bagi pengurus. Sebab itu kita akan menyusun orang yang betul-betul mau dan bersungguh-sungguh," sebut dia.

Ditambah lagi salah satu peran fungsi LAM Riau juga untuk membela kepentingan masyarakat. Kata Syahril, rata-rata ada 200 pengaduan yang masuk dari masyarakat di berbagai pelosok Riau, mulai dari konflik hingga sengketa. Artinya, eksistensi Lembaga Adat Melayu Riau harus lebih ekstra.

"Ini menunjukkan bahwa masyarakat melayu Riau ini berharap kehadiran LAM yang betul-betul bisa membela kepentingan mereka, soal adat budayanya, termasuk pemberdayaan masyarakat adat. sebab itu dibutuhkan orang-orang yang memang terus menerus memikirkan lembaga, sehingga tupoksinya bisa jalan," ungkapnya.

Adat sebagai perekat bangsa, itulah yang ditanamkan Syahril sejak dulu. Itu pula lah yang membuat masyarakat tetap bersatu padu dan berjalan harmonis dengan pemerintah hingga sekarang ini. Maka pantaslah bila keberadaan LAM Riau dianggap sangat vital sebagai jembatan penghubung.

"Pemerintah tidak mungkin jalan sendiri, dan kami pun sebagai mitra tentu ingin berkontribusi besar sehingga semuanya berjalan seimbang. Jadi tidak ada kekuatan yang dominan, melainkan saling mengisi dan keduanya saling menopang. Dan kita semua berkomitmen untuk itu," pungkasnya. *Had