DALAM beberapa hari ini pemerintah sibuk melakukan operasi pasar untuk meredam laju naiknya harga minyak goreng. Kenaikan harga minyak goreng saat ini dipengaruhi oleh harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dunia yang naik menjadi US$1.340 per ton. Kenaikan harga CPO menyebabkan harga minyak goreng ikut naik cukup signifikan (Bisnis.com).

Kondisi ini diperkuat dari hitungan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat bahwa inflasi pada bulan Desember 2021 tercatat sebesar 0,57 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada inflasi Desember ini, salah satunya adalah minyak goreng dengan andil sebesar 0,08 persen. Demikian juga di Provinsi Riau, meskipun agak rendah minyak goreng memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen terhadap inflasi Provinsi Riau pada bulan Desember 2021 yang besarnya 0,05 persen.

Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam suhu kamar yang biasanya digunakan untuk menggoreng. Minyak goreng terbuat dari, kelapa, kelapa sawit, kacang tanah, jagung, kedelai, bunga matahari dan kanola. Secara umum, dipasarkan dua macam minyak goreng yaitu minyak goreng dari tumbuhan (minyak nabati) dan minyak goreng dari hewan, terdiri dari tallow (minyak atau lemak sapi) dan lard (minyak atau lemak babi). Contoh minyak goreng nabati adalah minyak sawit, minyak kelapa, minyak jagung, minyak kedelai, minyak zaitun dan lain-lain.

Di Indonesia termasuk Riau, minyak goreng yang paling sering digunakan adalah Minyak Goreng Sawit (Refined Bleached Deodourised Olein/RDBO). Kondisi ini disebabkan karena Provinsi Riau merupakan penghasil sawit terbesar. Menurut Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Indonesia Tungkot Sipayung, nilai ekspor produk kelapa sawit Provinsi Riau meningkat terus dari tahun ke tahun. Bahkan dari 25 daerah penghasil kelapa sawit di Indonesia, Riau posisi teratas memproduksi Crude Palm Oil (CPO) di Indonesia. "Pertahunnya, CPO dari Riau 20 persen dari total jumlah CPO keseluruhan daerah penghasil sawit di Indonesia, diposisi berikutnya Kalimantan Tengah sebesar 17 persen (Gatra.com, Selasa (27/7). Menurut beliau luas kebun sawit di Riau saat ini hampir 3 juta hektar. 65 persennya atau seluas 2 juta hektar adalah kebun masyarakat, sedangkan pihak swasta menguasai sisanya yaitu sebesar 33 persen.

Hal itu berarti naiknya harga sawit (tandan buah segar/tbs) tentu sangat menguntungkan bagi penduduk Riau yang berkebun sawit, apalagi memiliki lahan sawit yang lebih banyak. Sehingga bayangan kesejahteraan atau kehidupan yang lebih baik makin tergambar jelas. Jika dilihat indikator nilai tukar petani (NTP) sektor perkebunan rakyat di Provinsi Riau juga selalu mengalami kenaikan. NTP sektor perkebunan rakyat Provinsi Riau bulan Desember 2021 naik sebesar 2,84 persen dibanding bulan November 2021.

Akan tetapi kalau dilihat lebih seksama, kenaikan minyak goreng di Provinsi Riau bukan serta merta faktor naiknya minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang nota bene naiknya buah sawit (tandan buah segar/tbs). Melainkan ada faktor lain yaitu yang disebut dengan MPP (Margin Perdagangan dan Pengangkutan).

MPP (Margin Perdagangan dan Pengangkutan) adalah selisih antara nilai penjualan dengan nilai pembelian yang mengikutsertakan biaya pengangkutan. MPP ini diperoleh berdasarkan survei pola distribusi perdagangan (Poldis) yang dilakukan BPS provinsi Riau.

Distribusi perdagangan komoditas minyak goreng dari produsen (pabrik minyak goreng kelapa sawit) sampai ke konsumen akhir di Provinsi Riau melibatkan sejumlah pelaku perdagangan yaitu distributor, agen, pedagang grosir, pedagang eceran dan swalayan/supermarket. Artinya minyak goreng yang diperjualbelikan di Riau berasal dari luar Provinsi Riau.

Sehingga harga minyak goreng yang dikonsumsi masyarakat Riau dari harga produsen bertambah dengan MPP ini, harganya meningkat sebesar 22,03 persen.

Sangat ironi memang Riau sebagai penghasil sawit terbesar di Indonesia, tetapi belum memilki pabrik minyak goreng dengan kemasan yang langsung dapat dikonsumsi di Riau. Dibandingkan dengan Sumatera Barat yang luas kebun sawitnya jauh di bawah Riau. ***

Penulis adalah Pejabat Fungsional Statistisi Ahli Madya Badan Pusat statistik (BPS) Riau.