PEKANBARU, GORIAU.COM - Perseroan Terbatas Bank Negara Indonesia Wilayah Riau menyatakan, optimistis pada semester kedua 2013 dapat dilalui dengan pertumbuhan ekonomi positif meski suku bunga acuan dinaikkan oleh Bank Indonesia sebesar 25 basis poin menjadi 7,25 persen.

''Kami menilai kenaikan BI rate tidak terlalu menekan pertumbuhan ekonomi di Riau, karena masih banyak sektor tetap prospektif untuk dibiayai perbankan. Baik dari sisi 'funding' maupun 'lending'," ujar Chief Executive Officer BNI Wilayah Padang Anang Basuki pada diskusi "Lunch with CEO" di Pekanbaru, Kamis.

Yang melatar belakangi BNI setempat tetap optimistis, menurut dia, ada empat hal, yakni struktur dana pihak ketiga yang masih bagus untuk mendorong terjadinya pertumbuhan dana murah (CASA) BNI di area Sumbar, Riau, dan Kepri masih di atas 75 persen.

Kemudian, industri yang masih dibiayai dan didominasi oleh sektor unggulan masing-masing provinsi dan industri berorientasi pada ekspor yang berarti "input"-nya dalam rupiah dan "output"-nya dalam valas.

Sampai dengan saat ini, kata dia, tidak terjadi peningkatan kredit bermasalah (NPL). Bahkan, NPL "business banking" BNI di Riau sampai saat ini turun dari sebelumnya sekitar 3 persen di akhir tahun 2012, menjadi 2 persen di akhir Agustus 2013 dengan kolektibilitas kredit sekitar 98 persen.

"Terakhir yang membuat kami tetap optimistis dengan selalu meningkatkan 'fleksibilitas pricing' pembiayaan BNI, yang dikorelasikan dengan tingkat risiko usaha debitur," katanya.

Chief Economist BNI Wilayah Padang Edi Ariyanto di tempat yang sama membenarkan kebijakan Bank Indonesia, yang menaikkan suku bunga 25 bps telah berdampak pada kabar baik pada hari Kamis (19/9) pagi.

"Harga saham BNI kini sudah membaik di posisi 4,5 persen di IHSG. Dan harga emas juga menguat, yang berdampak positif bagi kinerja ekonomi tiga bulan kedepan dengan defisit akan mengecil," katanya.

Meski ada angin segar, dia memandang perlu ada kehati-hatian dalam menyikapi ekonomi Semester II 2013. Karena spekulasi masih jadi menjadi bumerang yang menakutkan.

Bank Indonesia mengawal rupiah agar tetap terjaga melalui bauran kebijakan moneter dan yang lain, seperti menaikkan bunga fasilitas simpanan Bank Indonesia atau deposit facility menjadi 5,25 persen, hingga membuat Sertifikat Deposito BI dengan tenor beragam.

Meski demikian, kenaikan BI rate juga akan mendorong Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menaikkan LPS rate menjadi 7.00 persen, yang ujung-ujungnya akan mendorong bank-bank menaikkan bunga atau dana dan kredit.

BNI setempat saat ini memiliki jaringan layanan seperti 13 outlet kantor cabang utama, 47 outlet kantor layanan, 23 outlet kantor kas, 8 outlet sentra kredit, dan 426 unit ajungan tunai mandiri (ATM). (ant)