
Permainan tradisional meriam bambu atau disebut juga bedil bambu/meriam buluh merupakan permainan anak melayu yang biasanya dimainkan pada bulan suci Ramadhan. Permainan ini terinspirasi dari senjata yang digunakan oleh Portugis ketika menguasai nusantara pada abad ke 6. Permainan ini terbuat dari bambu berukuran besar kemudian dipotong sekitar 1,5 meter. Kemudian pada bambu dibuat lobang kecil berdiameter 5 cm, lantas dari lobang tersebut dimasukkan minyak tanah dan kain sebagai sumbu. Selanjutnya permainan dilakukan dengan memancing atau memanaskan meriam dengan memberikan api terus ditiup untuk mengeluarkan asapnya. Setelah ini selesai barulah ditembak. Besar suara yang dikeluarkan tergantung besar bambu dan kemahiran sang pemain dalam memanaskan meriamnya. Kini permainan ini sudah terancam punah atau jarang dimainkan lagi.
Beberapa anak sedang asik bermain meriam bambu. Permainan ini sering dijumpai pada bulan Ramadan. Dalam permainan ini juga sering perang-perangan diantara mereka. Bunyi yang keras merupakan pemenang.
Seorang anak di Desa Pembatang, Pangean, Kuantan Sengingi sedang menembakkan meriam bambunya. Permainan ini kini sudah jarang ditemukan lagi.
Dalam membunyikan meriam bambu ini terkadang ada perasaaan ngeri dan takut. 