
PEKANBARU - Candi Muara Takus adalah salah satu peninggalan bersejarah dari Kerajaan Budha Sriwijaya yang sangat termasyur. Terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar yang berjarak 135 km dari kota Pekanbaru, Riau.
Muara Takus merupakan sebuah komplek percandian yang besar dan luas. Candi ini juga diyakini sebagai kompleks peninggalan Kerajaan Sriwijaya tertua di dunia. Siapa sangka, bangunan ini adalah titik tengah atau pusat dari Pulau Sumatera.
Kepala Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif Provinsi Riau Famizal Usman mengatakan, sebagai peninggalan paling bersejarah di Riau, Candi Muara Takus menjadi daya tarik bagi wisatawan. Tercatat lebih dari tiga ribu orang datang mengunjungi situs ini setiap bulannya.
"Candi Muara Takus merupakan satu dari beberapa tempat wisata andalan di Riau, karena memiliki keunikan dan sejarah yang sangat tinggi. Candi ini menurut beberapa penelitian merupakan pusat dari Pulau Sumatera, karena berada di tengah-tengah pulau," kata Fahmizal Usman baru-baru ini di Pekanbaru.
Fahmizal mengatakan, sebagai situs wisata unggulan, pihaknya terus berupaya untuk melengkapi sarana prasarana pendukung. Terlebih lagi, tempat ini mudah dijangkau, karena berjarak sekitar 3 jam dari Kota Pekanbaru. Situs ini juga berada di perbatasan Sumatera Barat yang lebih unggul di bidang kepariwisataan.
Sekilas mengenai Candi Muara Takus, pertama kali ditemukan pada tahun 1860 oleh seorang arkeolog bernama Cornet D. Groot. Keunikan candi ini adalah bangunannya yang terbuat dari beberapa jenis batu yaitu batu bata, batu pasir dan juga batu sungai.
Candi ini juga dikelilingi oleh bangunan semacam pagar tembok yang terbuat dari batu bata berukuran cukup besar yaitu sekitar 74 x 74 cm.
Kompleks bangunan Candi Muara Takus sendiri terdiri dari beberapa bangunan utama yaitu Candi Mahligai atau yang juga disebut dengan Stupa Mahligai adalah bagian candi yang sangat megah terlihat. Selain itu bangunan ini masih terlihat utuh tanpa kerusakan berarti.
Kemudian bangun lain yang mendukung adalah Candi Tua yang disebut oleh masyarakat sekitar dengan sebutan Candi Sulung merupakan bangunan yang paling besar diantara bangunan lainnya di kompleks candi ini.
Dua bangunan lain yakni Candi Bungsu dengan atap berbentuk segi empat ini memiliki ukuran 13,20 x 16,20 meter dengan stupa-stupa kecil dan sebuah tangga di bagian timur candi. Terakhir Candi Palangka, berdasarkan penelitian. bangunan ini diperkirakan dipakai sebagai altar. Bentuknya sedikit unik karena tidak begitu tinggi dan bagian atasnya sangat datar dan lebar.
Unik dari sejarah Candi Muara Takus adalah arsitektur bangunan yang selain menggunakan bahan yang berbeda dengan candi-candi lain di Indonesia, namun juga memiliki bentuk yang lebih mirip dengan bangunan candi stupa budha di Sri Lanka, India, Vietnam, atau Myanmar. (*/rul)