
PEKANBARU - Pesan mendalam tentang kasih sayang tulus dan pengorbanan tanpa batas menjadi daya tarik utama film layar lebar berjudul Jangan Buang Ibu. Plt Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Riau, Adrias Hariyanto memberikan apresiasi tinggi usai menghadiri pemutaran perdana karya tersebut di XXI Mall SKA, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, tayangan ini berhasil mengingatkan penonton akan pentingnya peran orang tua, terutama kekuatan doa seorang ibu yang tak pernah putus demi kebahagiaan anak-anaknya.
"Keren filmnya, krunya, semua keren. Alhamdulillah banyak sekali yang terasa dari film ini karena yang menonton kebanyakan ibu-ibu," ujar Adrias.
Ia hadir bersama jajaran pengurus TP PKK Provinsi Riau dan tampak hanyut dalam alur cerita drama keluarga tersebut. Baginya, meski anak terkadang luput membalas kebaikan, seorang ibu sejati akan selalu bersyukur dan menyertai langkah buah hatinya dengan doa tanpa pamrih.
"Yang penting untuk seorang ibu, doa kita menembus langit untuk anak-anak dan keluarga. Selalu berdoa terus, semoga Allah membahagiakan kita semua," paparnya penuh haru.
Film Jangan Buang Ibu rencananya tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai Kamis (25/6/2026) mendatang. Karya yang diadaptasi dari novel populer terbitan tahun 2014 karangan Wahyu Derapriyangga ini disutradarai langsung oleh sineas berbakat, Hadrah Daeng Ratu.
Jalan ceritanya berfokus pada sosok Ristiana (diperankan Nirina Zubir) yang harus menjadi orang tua tunggal. Ristiana berjuang membesarkan ketiga anaknya, yakni Tama (Refal Hady), Dewi (Amanda Manopo), dan Tria (Saputra Kori), usai kepergian mendadak sang suami (Dwi Sasono).
Kehidupan Ristiana yang sederhana dan penuh kerja keras perlahan menjadi dilema saat ia menyadari mendiang suaminya mewariskan utang dalam jumlah besar. Keputusan sepihak sang tokoh utama untuk melunasi beban utang tersebut justru memicu konflik batin di antara ketiga buah hatinya.
Kedekatan dan kehangatan keluarga yang selama ini terjalin mulai merenggang, menciptakan jarak sekaligus kerinduan mendalam di hati Ristiana. Film ini menyoroti potret nyata dinamika keluarga, sekaligus mempertanyakan mampukah anak-anak menyadari pengorbanan serta kembali berbakti kepada orang tuanya sebelum waktu benar-benar terlambat. ***