PEKANBARU - Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia melakukan terobosan besar dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Menanggapi pergeseran perilaku ekonomi ke arah digital, BPS kini menerapkan strategi "Digital First" untuk menangkap potret ekonomi yang lebih akurat.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS RI, Pudji Ismartini mengungkapkan bahwa inovasi teknologi seperti pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan penguatan big data menjadi kunci utama pendataan kali ini.

Tiga Metode Pendataan Modern

Untuk memudahkan responden, BPS menyediakan fleksibilitas melalui sistem multi-moda. Inovasi ini memastikan seluruh aktivitas bisnis, termasuk toko online dan ekonomi kreatif, terekam dengan baik:

  • Moda CAPI: Wawancara langsung menggunakan gawai oleh petugas di lapangan.
  • Moda CAWI: Pengisian data secara mandiri melalui web bagi responden.
  • Moda PAPI: Kuesioner fisik yang dikhususkan bagi korporasi skala besar.

"Kita ingin menangkap dinamika ekonomi baru, seperti marketplace dan monetisasi media sosial yang belum terekam maksimal pada dekade sebelumnya," jelas Pudji Ismartini, Minggu (14/6/2026).

Pentingnya Peran Masyarakat

Meski mengedepankan teknologi, BPS tetap menekankan pentingnya kejujuran responden. Validitas data yang dihasilkan dari lapangan menjadi modalitas utama bagi pemerintah untuk mengevaluasi capaian makro ekonomi nasional.

Dengan lonjakan jumlah unit usaha di Riau yang sangat pesat dari 366 ribu pada tahun 2006 menjadi 526 ribu unit pada 2016, data tahun 2026 ini sangat dinantikan sebagai pijakan investasi masa depan daerah. ***