JAKARTA - Kinerja kabinet pemerintahan saat ini menuai kritik tajam karena dinilai tidak memiliki arah kebijakan yang jelas. Sorotan utama tertuju kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Keputusannya menaikkan harga LPG di tengah himpitan lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dianggap memicu kegaduhan publik. '

Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR), Hari Purwanto, menilai situasi kabinet sekarang seolah berjalan sendiri tanpa kendali yang jelas. Kondisi ini diperparah dengan keadaan keuangan negara yang sedang tidak stabil.

"Kabinet hari ini bisa dikatakan kabinet 'auto pilot'. Karena kondisi keuangan yang tidak kondusif, maka setiap menteri mengambil pilihan paling mudah, yakni menaikkan harga barang yang menjadi kebutuhan masyarakat," ujar Hari kepada RMOL, Selasa (21/4/2026).

Kebijakan sektor energi tersebut dinilai semakin mencekik leher rakyat yang sudah terbebani berbagai kebutuhan pokok. Di sisi lain, Hari menyayangkan sikap para pejabat yang justru tidak berempati terhadap kesulitan warga.

"Kita dipaksa untuk menghemat, tapi pajak dinaikkan seperti era kolonial. Di sisi lain, para elit justru mempertontonkan kemewahan," tegasnya.

Sikap pemerintah yang kurang sensitif terhadap kondisi sosial ekonomi ini dikhawatirkan semakin menjauhkan rakyat dari pemimpinnya. Terlebih, koordinasi antar kementerian juga dinilai sangat lemah, sehingga setiap lembaga terkesan berjalan dengan agendanya masing-masing.

"Citra pemerintahan saat ini makin tidak terjaga karena pembiaran atas agenda kementerian masing-masing. Kasus MBG, KDMP, hingga urusan Satgas PKH berjalan semaunya, selama kepentingan pribadi dan kelompok tidak terganggu," urainya.

Melihat situasi yang terkesan tak terkendali, perombakan atau reshuffle susunan kabinet, khususnya di sektor energi, dipandang sebagai langkah mendesak untuk meredam kekecewaan publik.

"Reshuffle bisa menjadi obat sementara bagi pemerintahan saat ini," paparnya.

Langkah perombakan tersebut ditegaskan tidak akan berdampak banyak jika tak dibarengi dengan perubahan arah kebijakan yang sungguh-sungguh memihak kepentingan rakyat. Jika perbaikan tak segera dilakukan, Hari memprediksi akan muncul gelombang penolakan yang lebih besar.

"Jika situasi terus tidak menentu, gerakan sipil akan menguat, terutama dari kelas menengah yang tertekan oleh dampak situasi global hingga nasional. Biarkan gajah-gajah bertarung, tapi jangan sampai semut terinjak-injak," tambahnya. ***