
PANGKALAN KERINCI, GORIAU.COM - Sampai saat ini, tak bisa dipungkiri jika di pelosok-pelosok kampung di Pelalawan, Riau masih banyak masyarakat yang lebih percaya pada dukun beranak ketimbang tenaga kesehatan bidan.
''Karena itulah, sebagai seorang tenaga kesehatan tugas bidan lah yang harus menjalin kemitraan dengan dukun setempat agar dalam menolong proses persalinan seorang ibu bisa menjadi lancar. Tak perlu berebut tugas atau semacamnya, karena memang pada dasarnya penanganan antara bidan dan dukun beranak itu berbeda. Yang jelas kemitraan itu yang utama harus dijalin karena muara semuanya adalah menolong ibu bersalin," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pelalawan, Drs Darwis Alkadam M.Si, pada sejumlah media di Pangkalan Kerinci, Jum'at (1/2/2013).
Untuk bidan sendiri, sambungnya, jika dirasakan dalam menolong ibu bersalin mengalami kesulitan karena terbatasnya peralatan serta obat-obatan maka harus secepatnya merujuk ke Puskesmas atau ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Selasih di Pangkalan Kerinci. Hal ini untuk menghindari terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan menyangkut nyawa ibu dan bayi yang akan ditolongnya.
"Bidan harus bisa memutuskan jika dalam menangani persalinan ternyata mengalami kesulitan, baik karena peralatannya yang kurang memadai atau karena kekurangan obat-obatan, untuk segera merujuknya ke Puskesmas atau ke RSUD Selasih," katanya.
Disinggung soal jumlah Bidan PTT yang ada saat ini, Darwis menjelaskan bahwa sampai saat ini ada sekitar 120 orang bidan di desa-desa di 12 kecamatan yang tersebar di Kabupaten Pelalawan. Dengan kata lain, saat ini sudah ada sekitar 95 persen desa-desa yang ada di daerah ini telah terisi bidan-bidan desa. Sementara untuk total jumlah bidan yang ada di Kabupaten Pelalawan saat ini tercatat sebanyak 284 orang.
"Untuk rasio bidan sendiri idealnya adalah 93 orang bidan melayani 100 ribu penduduk. Jadi jika dilihat dari jumlah penduduk Pelalawan sebanyak 303.021 maka bidan di Kabupaten Pelalawan sudah mencukupi tapi memang belum merata di semua desa karena sebagian besar tenaga bidan masih banyak berada di Ibukota Kabupaten Pelalawan," bebernya.
Ditambahkannya, sebagai seorang tenaga kesehatan, para bidan yang ada di daerah ini terutama bidan yang masih berstatus Pegawai Tidak Tetap (PTT) harus siap memberikan pelayanan dan pertolongan selama 24 jam jika masyarakat memerlukannya. Meski pertolongan yang dibutuhkan masyarakat itu datangnya malam hari maka seorang bidan harus siap memberikan pelayanannya secara proporsional dengan tetap memegang etika kebidanan.
Menurutnya, kesiapan tenaga bidan selama 24 jam itu karena selain mereka sangat dibutuhkan dalam persalinan juga bidan bisa menjalin kemitraan dengan dukun beranak yang ada di kampung-kampung.
"Dalam implementasi tugasnya, seorang bidan utamanya memang membantu persalinan seorang ibu sampai lancar juga menjalin kemitraan dengan dukun-dukun beranak yang ada di kampung-kampung," ujarnya. (ilm)