DUMAI, GORIAU.COM - Anggota Komisi III DPRD Dumai A Qosim kepada Goriau.com, saat dikonfirmasi terkait kinerja Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Dumai dalam menindak perusahaan yang masih melakukan pengrusakan lingkungan diminta copot dari jabatannya. Karena Komisi III menilai basri, selaku kepala KLH tidak mampu.

Qosim menegaskan, jika kepala KLH tidak bisa menyelesaikan proses hukum untuk menindak perusahaan yang merusak lingkungan maka layaknya Basri, selaku kepala KLH saat ini dicopot dari jabatannya dan digantikan sosok yang benar-benar tegas, serta mampu menindak perusahaan secara adil dan tegas.“Copot saja kepala KLH itu kalau sudah tidak bisa bekerja, selama ini proses tumpahan CPO yang jelas-jelas berserakan dan merusak lingkungan, juga tidak bisa ditindak oleh KLH. Komisi III DPRD Dumai akan membahas serius permasalahan pengrusakan lingkungan ini,” bebernya Qosim.Sebelumnya diberitakan, Berbagai jenis ikan mati mendadak di parit yang terbentang sepanjang ratusan meter di Jalan Kusuma, Kelurahan Jaya Mukti, Dumai Timur, Rabu (14/8) kemarin. Belum diketahui pasti penyebab kematian ikan-ikan ini, namun yang jelas Kantor Lingkungan Hidup telah mengambil sampel air untuk dicek di laboratorium.Selain KLH, tampak staf PT Pertamina RU II Dumai dan LSM Dumai Bersatu juga turut melakukan peninjauan ke lokasi. Mereka ikut mengambil sampel air yang disinyalir tercemar sehingga membuat berbagai jenis ikan mati mendadak.Seorang warga sekitar, K. Sitompul baru mengetahui kejadian ini pada Rabu (14/8) pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Kejadian ini lantas membuat khawatir warga yang bermukim tak jauh dari lokasi kematian ikan. Sitompul mengatakan, fenomena matinya ikan di parit Jalan Kusuma merupakan yang pertama kalinya sejak ia tinggal selama 32 tahun di Kelurahan Jaya Mukti.Beberapa hari sebelumnya, kejadian serupa juga terjadi di Kelurahan Tanjung Palas. Namun belum ada pihak yang dinyatakan bertanggung jawab.Staf Humas PT. Pertamina RU II Dumai, Dasma Sinaga yang ditemui wartawan mengatakan, kehadiran pihaknya tidak lain sebagai bentuk perhatian terhadap warga yang tinggal di sekitar operasional perusahaan. Di lokasi itu, Pertamina terlihat ikut mengambil sampel. Ia menentang bila Pertamina dikait-kaitkan dengan kematian ikan di parit."Logikanya apa nuduh-nuduh Pertamina. Tadinya kami tidak ingin turun lapangan, tapi tidak ada salahnya juga kan," tegas Dasma Sinaga.Dasma menjelaskan, pihaknya mengetahui kejadian kematian ikan tersebut dari warga yang datang ke kantor perusahaan untuk mengadu. Oleh karena itu, Pertamina kemudian turut mengambil sampel guna diuji secara independen."Kita nanti tidak ingin Pertamina disudutkan atas kejadian ini. Kita nanti akan uji sample sendiri," ujarnya.Kepala Seksi Pengawasan Lingkungan KLH Dumai, Pahlawani belum mau memberikan komentar banyak. Ia enggan berspekulasi, kematian ikan secara mendadak disebabkan oleh pencemaran limbah. Menurutnya, KLH baru akan menyimpulkan setelah hasil sampel keluar dari laboratorium."Hari ini kita sudah ambil sampel. Kami akan cek dulu, baru beri kesimpulan," kata Pahlawani.Pasca kematian ikan di parit, Lurah Jaya Mukti, Andry Martin menghimbau, warga untuk tidak mengonsumsi ikan yang didapat dari parit di Jalan Kusuma. Ia meminta warga waspada. Apalagi mereka yang menggunakan air sumur untuk kebutuhan sehari-hari. Secepatnya Pemko Dumai akan mengumumkan perihal penyebab fenomena kematian ikan secara mendadak.(egy)